Sumber : Liputan6.com
Keindahan Danau Toba, Sumatra Utara, bisa jadi tak dapat dinikmati lagi di masa-masa mendatang. Sebab dari pantauan SCTV, Sabtu (23/1), volume air Danau Toba berkurang. Saat ini saja di awal musim penghujan air danau terbesar susut nyaris 1,5 meter.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut menyebutkan, penebangan hutan menjadi salah satu penyebabnya. Terbukti dari banyaknya gelondongan kayu. Hutan pun terlihat menggundul. Belum lagi melimpahnya limbah dan sampah yang masuk ke danau kebanggaan rakyat Sumut ini. Ironisnya dari 260. 154 hektare daerah tangkapan air di sekitar Danau Toba, nyaris separuhnya kritis.
Nelayan di Danau Toba pun menjadi taruhan. Mereka harus bekerja ekstra karena ikan hanya muncul di perairan dalam. Lumut di pinggir danau yang mulai menghilang membuat ikan tak betah berada di bibir danau.
Kini hanya satu yang dinanti para nelayan, yakni konservasi lingkungan. Pemerintah kabupaten dan sejumlah perusahaan kertas di sekitar Danau Toba harus turut berperan. Tentunya jika tak ingin maskot kebanggan rakyat Sumut itu menghilang begitu saja. (Tuti Alawiyah Lubis) (AIS)

yah konservasi pun kalo ga ada kesadaran yang intergrasi dari pemerintah dan warga, percuma
@muhammad syarif lubis
Yupe benar bro.. di akhir berita himbauan itu diserukan..
Cuman untuk danau toba, perusahaan kerambah itu juga harus turut dituntut untuk melakukan konservasi. Hotel dan rumah makan disekitaran danau toba yang buang limbah ke danau toba juga..
Sepertinya masyarakatnya dulu yang harus dibuka pikirannya tentang bagaimana menjaga kelestarian danau toba. kalau saya pulang kampung,mampir ke danau toba,sy perhatikan masyarakatnya cuek, buang sampah dan limbah langsung k danau toba.