save lake toba community

clean up the LAKE, green up the LAND!
Short URL to this post : http://savelaketoba.org/?p=174

Sumber :  Harian SIB, Samosir

Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Jumat (31/7) menerima kunjungan Save Lake Toba Community di Tabo Cottage (SLTC) Tuktuk Samosir. SLTC merupakan satu organisasi yang berawal dari dunia maya (facebook group) yang bertujuan menyelamatkan ekosistem Danau Toba. Kehadiran SLTC digagasi salah seorang pengurusnya, Nelly Sitorus yang sudah tinggal di London Inggris selama 21 tahun dan Koordinator Samosir Annette Siallagan. Komunitas dunia maya itu sangat tertarik dengan keindahan Danau Toba.

“Keindahan alam di sekitar Danau Toba dan Samosir sangat indah. Kami datang kemari juga dengan teman-teman dari Fun Bike Club yang sudah menempuh beberapa titik pariwisata di Samosir. Jika sarana prasarana Samosir sudah cukup baik, Tour De Samosir cocok digelar di sini,” ujar Nelly. Memang masih banyak kekurangan di Samosir. Namun Pemkab terus melakukan pembenahan menuju Kabupaten Pariwisata 2010. Bagi yang mengerti perencanaan, hanya pariwisata satu-satunya andalan daerah ini, jelas Mangindar.

Merespon tujuan SLTC yang siap bermitra demi kemajuan pariwisata Samosir, Bupati mengatakan siap dan sangat Wellcome. Segala hal-hal yang diperlukan SLTC terutama terkait kemudahan-kemudahan, semaksimal mungkin akan dijamin Pemkab Samosir. Terlebih, dari penjelasan singkat Nelly mereka bukan bertujuan mencari profit malah sesuai visi LSTC “Mewujudkan kelestarian Danau Toba sebagai sumber kesejahteraan”.

Dalam pertemuan itu, Bupati Samosir didampingi Kadis Pariwisata Melani Butar-butar memberikan peta pariwisata Samosir kepada tamu. Bupati Samosir terlihat sangat antusias dan bangga menjelaskan peta hasil karya Dinas Pariwisata Samosir. Namun sebaliknya, coordinator SLTC yang juga pemilik Tabo Cottage tempat pertemuan itu, menduga data peta itu tidak up to date.
“Kalau boleh saya katakan peta ini mengada-ada. Konsep pariwisata itu perlu data yang akurat bukan mengada-ada seperti peta ini. Saya tidak melihat titik lokasi Tabo Cottage di peta ini. Kami merasa dirugikan dengan peta ini. Pariwisata tidak boleh diskriminatif,” kata Annette.

Annette juga mengatakan sedikit bingung dengan rambu penunjuk lokasi di Samosir. Dia mencontohkan, di persimpangan Tuktuk ada rambu menuju Pangururan, Palipi, Nainggolan tapi tidak ada rambu mengarah ke kanan yang menunjukkan arah Tuktuk. Pengalamannya, beberapa kali wisatawan harus bingung mencari dimana Tuktuk karena tidak ada rambu penunjuk arah.
Satu lagi pak, sewaktu kami bersepeda masih banyak anak-anak di Samosir yang usil melempari kami dengan batu-batu kecil. Kami tidak tahu apa maksudnya itu. Yang pasti kenyamanan wisatawan terganggu. Kami mintalah kepada Pemkab untuk memberikan pendidikan karakter yang baik dalam menghadapi wisatawan, harap Annette yang masih asli “Bule” itu dengan bahasa Indonesia dan Batak yang pasih.

Dikawal Foredes, Kehadiran Bupati Membuat Wisatawan Panik
Ada yang mengejutkan tamu Tabo Cottage saat kehadiran Bupati Samosir malam pertemuan itu. Kehadiran orang nomor satu di daerah pariwisata itu malah membuat sebagian wisatawan Eropa panik. Pasalnya, lampu Foredes yang mengawal Bupati tetap menyala saat memasuki Tabo. Kenyamanan mereka-pun merasa terganggu.
Dari pantauan SIB mereka menanyakan kenapa banyak Polisi datang. Mereka cemas dan menduga ada sesuatu yang membahayakan malam itu sampai ada “mobil polisi”. Namun setelah mendapat penjelasan dari salah seorang pejabat, wisatawan itu dapat memaklumi walau kecemasan masih menyelimuti wajahnya.

Kehadiran Bupati ke daerah pariwisata dengan menggunakan Patwal apalagi menyalakan lampu Foredes perlu dipertimbangkan. Kita yang mengetahui itu mobil dinas perhubungan namum wisatawan mancanegara menggap itu mobil polisi. Terlebih pariwisata Indonesia sedikit terganggu akibat ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, ujar ketua forum diskusi Samosir Policy Watch, M Sitanggang.


4 Responses to “Bupati Samosir Terima Kunjungan Save Lake Toba Community di Tabo Cottage”

  1. esther purba

    Bupati di Samosir pakai forades? astaga, memalukan. Samosir tidak ramai dan banyak jalan yg rusak. saya rasa kecepatan tidak perlu tinggi dan tidak perlu sirene untuk “menyingkirkan” pejalan kaki. Kecuali Pak Bupati terganggu dgn ternak babi, kerbau yg sering melintas dan menyeberangi jalan. Pak Bupati perlu lebih bijak di kampungnya sendiri. Dan rasanya, tidak perlu berkaca mata hitam ketika meninjau ke daerah. Saya rasa sinar matahari di Samosir dan Toba cukup ramah tidak menyilaukan. Dengan berkacamata, bupati sudah menciptakan jarak.

  2. Mangiring Parulian Sinaga

    Sukses untuk pecinta lingkungan

  3. Mahadi Sitanggang

    Trims ya buat Save Lake Toba Community…Melihat berita diatas di up load di web ini saya mengucapkan terimakasih. Jika teman2 ingin tahu yang sejujurnya tentang pariwisata di samosir kita dapat berbagi. Sedikit banyak saya tahu dan ingin lebih tahu tentang konsep pariwisata. Hal itu sangat membantu dalam aktivitas saya sebagai wartawan di harian SIB

  4. Horas!
    Sukses selalu, mau comment nanti ajalah…
    Ngetest dulu berhasil apa enggak ^_^

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>