Penulis : Ir Bezalel Siagian MSi
Bagian Pertama :
Danauku Sayang…Danauku Malang
Danau Toba adalah salah satu danau air tawar terbesar didunia, yang memiliki luas areal perairan mencapai puluhan kilometer persegi dengan kedalaman sampai 900 meter, pada bagian yang terdalam. Danau Toba terletak pada daerah dataran tinggi Toba di Sumatera Utara dengan ketinggian permukaan airnya mencapai 698 meter dari permukaan laut. Secara geografis Danau Toba terletak pada kawasan Danau Toba yaitu pada area antara : 2010’LU sampai dengan 3000’LU dan antara : 98020’BT sampai dengan 99050’ BT. Danau Toba tercakup dalam wilayah administrasi dari tujuh kabupaten yang terletak didaerah dataran tinggi Sumatera Utara.
Danau Toba dahulu tercatat sebagai danau air tawar kebanggaan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sumatera Utara karena : keindahan panorama alamnya, kenyamanan dan kesegaran udaranya, keasrian dan keterpaduan lingkungan alam, keramah-tamahan penduduk yang bermukim disekitarnya , serta nilai-nilai budaya dan adat tradisional yang tinggi, yang kesemuanya itu menarik perhatian dan respon masyarakat internasional.
Tetapi sekarang ini…., Danau Toba telah menjadi danau yang jauh dari kebanggaan. Danau Toba telah ditimpa malapetaka karena dirusak oleh orang atau masyarakat yang memiliki kepentingan dengan ekosistem danau tersebut. Danau Toba telah diperkosa secara tragis oleh : kepentingan industri, keserakahan investor, ketidakpedulian masyarakat sekitar, ketidak-berdayaan pemerintah ,serta faktor-faktor perusak lainnya.
Tinggi permukaan air Danau Toba secara nyata terus menurun karena volume air yang keluar melalui hulu sungai Asahan lebih besar dari volume air yang masuk ke Danau Toba melalui daerah tangkapan airnya. Sekilas penurunan tinggi permukaan air Danau Toba tidak memberi gambaran yang signifikan atau tidak menurun dengan kontras.
Penurunan permukaan air Danau Toba secara visual memang terlihat lambat seiring perjalanan waktu, namun keadaan itu adalah karena hamparan air danau itu sangat luas sehingga memberi kesan bahwa penurunan permukaan air danau terlihat pelan. Bila memperkirakan luas Danau Toba yang sangat besar, serta tinggi permukaan air danau yang telah turun maka sebenarnya volume air yang turun atau hilang, telah mencapai jumlah yang sangat besar sekali.
Sebagai warga yang berasal dari kawasan Danau Toba, maka dari pengamatan penulis, dapat diketahui bahwa penurunan permukaan air Danau Toba telah mencapai lebih dari tiga meter selama dua dekade terakhir. Pemerintah mungkin sulit untuk bertindak mengurangi volume air yang keluar melalui hulu sungai Asahan, karena hal itu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pembangkit tenaga listrik untuk kepentingan perusahaan aluminium (INALUM) yang berada di daerah pesisir Timur Sumatera Utara.
Dalam ketidak – berdayaan , pemerintah justru mengambil solusi yang tidak menarik yaitu mengalihkan muara Sungai Lae Renun ke Danau Toba, dengan harapan sumbangan air dari sungai Lae Renun tersebut dapat menutupi defisit air Danau Toba. Pemerintah dinilai tidak memperdulikan adanya material berupa pasir dan kerikil yang terbawa sungai Lae Renun kedalam Danau Toba karena efek negatifnya mungkin baru terlihat setelah jangka waktu yang agak lama dimasa mendatang.
Pencemaran terhadap air Danau Toba, sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan tahun silam, Hampir semua penduduk yang bermukim dipesisir pantai Danau Toba membuang limbah langsung kedalam Danau Toba. Kalau dahulu, volume limbah mungkin masih sangat kecil, demikian juga jenis limbahnya bukanlah dari bahan kimia yang berbahaya. Tetapi sesuai dengan perjalanan waktu yang diikuti oleh pertambahan jumlah penduduk, juga perubahan jenis dan bentuk kegiatan aktivitas , maka volume dan jenis limbah yang masuk Danau Toba jelas sangat meningkat dan sangat membahayakan.
Sejak tahun enam puluhan, petani di sekitar Danau Toba telah terbiasa menggunakan pupuk kimia secara tidak terkontrol , padahal semua aliran air dari persawahan bermuara ke Danau Toba. Pada masa tahun enam puluhan juga terdapat banyak industri textile (pabrik tenun) di sekitar pesisir Danau Toba seperti di Balige, Pangururan dan Nainggolan. Semua saluran pembuangan limbah industri textile ini secara faktual bermuara ke Danau Toba.
Pada masa pesatnya kedatangan turis manca – negara ke Pulau Samosir, pernah dilakukan penelitian terhadap kualitas air disekitar kota Tomok, Ressort Tuktuk Siadong, serta areal disekitarnya. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa bakteri e-coli yang sumbernya berhubungan dengan tinja manusia, telah memiliki jumlah yang sangat luar biasa diperairan danau. Jumlah bakteri e-coli yang sangat besar ini, adalah ancaman langsung terhadap kesehatan manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa instalasi Septic-tank dihotel-hotel dan perumahan penduduk diwilayah tersebut berhubungan langsung dengan perairan Danau Toba.
Memperhatikan perkembangan pemukiman penduduk dipinggiran Danau Toba terutama mengenai : jumlah bangunan yang bertambah , populasi penduduk yang semakin besar , saluran irigasi, sistem pembuangan limbah, maka dapat diperkirakan bahwa volume limbah berbahaya yang masuk ke dalam Danau Toba akan semakin meningkat setiap tahunnya.
Pemeliharaan ikan nila di dalam keramba apung merupakan alternatip terbaik bagi masyarakat, setelah timbulnya wabah terhadap ikan mas yang dipelihara dalam keramba. Sementara menangkap ikan yang bebas didalam danau, sulit memberi hasil menggembirakan karena populasi dan ukuran ikan sudah sangat kecil. Pemeliharaan ikan dalam keramba apung harus diakui memberi efek negatif kepada lingkungan Danau Toba terutama efek dari bahan pakan ikan (berupa pelet) yang tidak terkonsumsi oleh ikan piara dan terbuang secara kontinue ke dalam danau.
Jumlah kumulatif bahan pakan ikan yang terbuang dari seluruh keramba apung diperkirakan sudah sangat besar. Dapat dibayangkan masalah yang mungkin terjadi bila keadaan tersebut masih terus berlanjut. Di sisi lain, adanya perusahaan asing yang memelihara ikan nila dalam keramba apung di Danau Toba, diduga berperan sangat besar memberi sumbangan limbah kedalam danau baik berupa pellet terbuang maupun limbah jenis lainnya.
Perusahaan ini diyakini memiliki jumlah ikan peliharaan sangat banyak, dengan demikian jumlah limbah terbuang dari seluruh keramba apung yang dimiliki perusahaan ini diperkirakan sangat besar setiap harinya. Sebagai perusahaan perikanan yang memberi banyak devisa bagi negara, maka diduga pemerintah akan sulit mengontrol langsung pembuangan bahan beracun yang mungkin dilakukan perusahaan tersebut.
Seandainya seluruh area yang mengelilingi Danau Toba ditumbuhi oleh pepohonan dan vegetasi lainnya yang membentuk hutan, maka diyakini bahwa hutan sekeliling Danau Toba akan menambah keindahan panorama dan kenyamanan lingkungannya . Demikian halnya dengan puncak dan lereng dari Pulau Samosir yang secara faktual tandus dan gundul, akan berubah menjadi hijau dan lebih subur bila ditumbuhi pepohonan.
Adanya hutan disekeliling Danau Toba diharapkan akan memberi sumbangan air ke Danau Toba. Hutan akan menyimpan air dan selanjutnya mendistribusikannya secara teratur ke area yang lebih rendah. Tetapi gambaran adanya hutan disekeliling Danau Toba mungkin sulit terwujudkan atau upaya reboisasi didaerah ini dapat dikatakan mustahil. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa area sekeliling Danau Toba dan Pulau Samosir dari tahun ke tahun semakin kritis, demikian juga halnya dengan hutan yang dulunya ada, sekarang sudah habis.
Secara faktual, Danau Toba yang dahulu sangat indah dan sangat dibanggakan, telah mengalami degradasi nilai berupa penurunan permukaan air dan penurunan kualitas air akibat limbahnya seperti limbah rumah tangga, limbah keramba apung dan limbah lainnya. Lingkungan sekitar Danau Toba juga sudah kritis dan gundul, yang semuanya itu menambah beban dan derita Danau Toba yang malang.
Besambung ke halaman 2.

bagus analisisnya, lebih bahgus lagi kalau ditambah data penelitian di lapangan. Kearifan lokal memang harus menjadi ujung tombak penyelamatan danau toba, tapi kita juga harus pikirkan kemajuan ilmu dan teknologi. seandainya pemerintah atau siapapun mau berpikir sejenak dan benar2 serius ingin membangun kembali dananu toba, banyak ko putra-putri kita yang mumpuni dalam bidang itu. ada ko jurusan kesehatan masyarakat, ada ko lulusan biologi, ada ko ahli kimia. terus ko ga dipanggil sama yang berwenang ?
terimakasih atas ulasannya yang mendalam.
main juga ke blog saya :http://rajasimarmata.wordpress.com
Danau Toba adalah danau terindah yang saya lihat, terakhir saya ke toba tahun 2004 bersama famly, disitu saya melihat banyak sekali perubahan yang telah terjadi, dari segi kebersihan nya, waktu itu saya sengat menyesalkan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Kenapa tidak kita rawat bersama Danau Toba itu, kita buat danau toba itu menjadi kebanggan propinsi sumut bahkan sampe membawa Negara indonesia menjadi harum.
seandainya danau toba dapat berbicara, mungkin dia berkata :
” kenapa orang batak meninggalkanku, menghabiskan hari2nya di pulau jawa, eropa, pulanglah ke toba yg biru”
Let’s save Lake Toba…danau yang indah nan hijau…tidak kulihat lagi wajah itu ketika aku berkunjung June 2009. Dua belas tahun yang silam, danau itu masih biru dikelilingi perbukitan nan hijau. Air yang jernih dan berkilau….kurindu danau Toba tercinta kembali seperti dulu lagi. Pemandangan nya indah, alami dan banyak tourist yang datang kesana.
Mengapa sekarang bukit nan hijau jadi gundul kering kerontang, ada jg masyarakat yang menjadikan nya lahan dengan membakar pohon-pohon yang tumbuh disana? mengapa ada ijin dari pihak tertentu untuk menebas pohon-pohon yang sudah berpuluh ribuan tahun tumbuh disana.
Air danau yang dulu jernih, bersih sekarang berubah menjadi air yang berbau amis…dulu aku masih ingat bisa langsung meminum air danau dan segar sekali rasanya tp sekarang ada perasaan ngeri karena emang air nya dah berbau amis.
Oh…danau ku ….aku iba kepadamu…miris hatiku. Danau kebangganku yang tidak terlupakan…
Bravo SLTC…i proud of you…thanks to you…for your campaign to SAVE our Lake Toba. Do it until something happens in our LAKE…changes to the best future for our land Lake Toba
MAri terus kampanyekan penyelamatan danau kita yang indah seperti Lagu Tao Natio http://www.youtube.com/watch?v=DxmwkZumZnk
KIta kampanyekan juga peningkatan kesadaran masyarakat dan kepedulian pemerintah daetan untuk melindungi kawasan agar tidak terjadi pembakaran kawasan tangkapan air http://www.youtube.com/watch?v=MC3DDYxRJgA
Kearifan lokal tidak selalu memberikan pengaruh positif yang langsung kepada kawasan ekosistem danau toba. sebaliknya, regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada masa-masa terdahulu belum berpihak kepada jaminan eksistensi kawasan ekosistem danau toba.
Barangkali, okupasi hutan/ lahan sekitar kawasan ekosistem danau toba menjadi “Root of problem” dari semua masalah lingkungan yang terjadi pada kawasan ekosistem danau toba.
Dalam hidrologi, jumlah air yang masuk ke dalam sistem/ danau akan sama dengan jumlah air yang ke luar dari sistem/ danau. Hanya saja bentuk pengeluaran air dari sistem bisa bervariasi. Artinya, keluaran air dari sistem/ danau tidak hanya melalui pintu air danau yang berada di porsea saja,tetapi bisa melalui aliran bawah permukaan (base/ ground water flow).
Kebocoran air keluar dari sistem/ danau bisa mempercepat pengeringan air danau. Namun, jumlah air terbesar yang hilang sebenarnya terjadi melalui evaporasi langsung dari permukaan air danau. Curah hujan dan Energi matahari merupakan konponen menjadi pusat perhatian dalam menilai kesinambungan volume air danau toba. Sementara vegetasi, tanah dan jaringan sungai hanya mempengaruhi masukan air melalu sistem DAS ke dalam sistem. Membenahi ekosistem danau toba sama dengan membenahi sistem DAS yang ada di sekitarnya dan yang mempengaruhi masukan dan keluaran air ke dalam sistem/ danau.
Kpd penulis yth,
saya telah baca tulisan itu…..namun itu masih sebatas wacana…. kadang kali kita memperbesar permasalahan.. tiada yang salah dalam tulisan itu. Ketika hal itu ditulis…tentunya harus dibuktikan lagi. Sebenarnya apa masalahnya? Apa yang ada dalam tulisan itu baru sebatas hipotesa terhadap apa yang kita lihat dan rasakan. Saatnya kita harus buktikan, apa masalah sesungguhnya melalui “Scientific Research”….
Anda tahu..saya juga tahu.. kita semua tahu…so what our conclusion?
Siklus global-warming dan Ice-age sudah siling berganti sebanyak lima periode dan untuk Global-warming sekarang ini memasuki periode yang ke-5 sepanjang usia bumi, mungkin ada pengaruhnya terhadap penurunan volume Danau Toba.
Kearifan lokal (Local wisdom) harus mampu mengatasi problem Danau Toba terutama adanya program Save The Tao, tetapi Danau toba harus pula menjadi berkah pada masyarakat asli sekitar dan jangan menjadi hanya konsumsi orang yang menginginkan keindahan oleh orang luar dalam konsumsi pariwisata saja.
Penataan lingkungan terutama pembuangan limbah tinja dari hotel dan rumah serta limbah sampah mungkin hanya seputar metode pengelolaan saja. Pemanfaatan nilai ekonomis danau dalam hal keramba tentu menjadi manfaat yang tidak harus dilarang, namun kembali kepada metode pengelolaannya yang harus disinergikan oleh semua fihak terkait, semisal pemanfaatan pengelolaan keramba bukan di kawasan wisata. Masalah sisa pakan saya kira bukan kekhawatiran karena tak mungkin pakannya mengandung B3 sebagaimana yang dikhawatirkan.
Kearifan selayaknya disinergikan oleh semua fihak; masyarakat setempat - pemerintah/badan2 peduli - masyarakat luar, yang penting ada perputaran dana yang besar disekitar danau toba. SAVE THE TAO
Comment Tambahan:
Kearifan lokal yang dimaksud di artikel ini seharusnya untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat asli disekitar Danau Toba dan jangan pula menjadi tuntutan yang menjadikan masyarakat semakin tidak berdaya. Pemanfaatan Danau Toba dan lahan sekitarnya harus diberdayakan untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar. Saya kurang setuju kalau program SAVE THE TAO justru mengkebirinya. Masyarakat Batak disekitar Danau Toba sudah terlalu lama menderita dan hampir tak menikmati kemajuan di jaman kemerdekaan dibanding masyarakat perkotaan. Bagaimana mereka boleh bersaing di zaman modernisasi ini?
Jadi segala potensi peningkatan ekonomi rakyat disekitar Danau Toba harus menjadi bermanfaat bagi masyarakat disitu semaksimalnya karena itu adalah lahan mereka yang mereka mampu kuasai untuk kemaslahatannya. Menaburkan biji2 jagung (bukan metode penanaman) ke lahan2 terbengkalai mungkin akan menyediakan pakan ternak yang melimpah. Tetap melakukan penanaman pohon2 yang mampu tumbuh di lahan tandus, bahkan yang mampu pula sebagai tanaman produktif seperti sengon. Kalau masalah sisa pakan keramba, saya berpendapat tidak menjadi unsur negatif kegiatan masyarakat disitu dan justru menjadi penyedia pakan bagi ikan2 diluar keramba.
Sorotan yang paling besar justru pada penggunaan B3 pada pertanian dimana dinegara maju sudah dilarang, malah kita menggunakannya secara berlebihan. Bukan hanya danau toba, semua lahan persawahan di Tanah Batak yang dulunya masih dihuni oleh ikan-ikan endemik, sekarang sudah punah. Pengupayaan danau toba sejak dulu ditanami mujahir dan kemudian kelompok TD Pardede dengan udangnya tidak menjadi tuduhan hilangnya jenis2 ikan di danau toba bukankah upaya itu untuk siklus rantai makanan? tetapi kandungan B3 yang terdapat di danau toba yang harus dihentikan. Kita carilah sumbernya dari mana?
Kunjungan terakhirku ke Samosir mid Sept. Memprihatinkan adalah kata yang cukup untuk mewakili kondisi Danau Toba dan sekitarnya. Baik danaunya, hutannya bahkan penduduknya. Miris. Salah satu temenku yang baru pertama kalinya melihat kondisi tanah di Samosir nangis. Dia gak bisa bedakan mana tanah mana batu, karna tanah sudah mengeras seperti batu.
Danau Toba adalah point penting untuk diselamatkan, tapi jangan lupa ada yang jauh lebih penting yang perlu diselamatkan. PENDUDUK nya. Pernahkah kita semua berfikir, apa mata pencaharian mereka sekarang? Bertani? Tanah mereka gersang, gak ada air. Nelayan? Danaunya tercemar, gak ada ikan. Bertenun? Berapa orang dari kita yang menghargai ulos. Dan adakah pemerintah peduli dengan ulos itu? Wisata? Apa yang mau dijual ke wisatawan kalo objeknya sendiri udah gak indah? Bagaimana mereka memperkenalkan budayanya kalo mereka sendiri terbatas dalam berkomunikasi?
Satu hal lagi yang ironis, bagaimana mungkin Samosir yang punya danau seluas itu kekurangan air? Bagaimana mungkin di zaman semodern ini masih ada rumah yang tidak punya MCK yang layak? Bagaimana mungkin mereka tidak punya air bersih untuk minum?
Come on! Pemerintah, tugas utamamu adalah AIR BERSIH dan PENDIDIKAN/PENGETAHUAN yang layak untuk penduduk di sekitar Danau Toba yang kita cintai itu.
good..