Bagian Kedua :
Rincian Permasalahan
Masalah lingkungan yang menerpa kawasan Danau Toba adalah sangat serius terutama pada upaya penanganan ekosistemnya. Masalah lingkungan ini sebenarnya bukan persoalan baru, tetapi merupakan masalah yang sudah terjadi secara berkelanjutan sejak lama. Berbagai masalah lingkungan tersebut secara nyata adalah bencana kompleks yang dapat memberi efek kumulatif yang sangat mengerikan di masa mendatang.
Bencana tersebut tidak hanya dirasakan dan diperhatikan saja, tetapi sudah diamati, dipikirkan dan telah dibicarakan berkali-kali dipelbagai tempat dan waktu. Gaung dari pembicaraan tentang masalah lingkungan Danau Toba ini juga sudah sampai nun ke negeri-negeri mancanegara. Akan tetapi upaya penanganan masalah lingkungan danau ini masih jauh dari harapan.
Harus diakui, bahwa bencana lingkungan yang terjadi di Danau Toba kurang riuh dibandingkan dengan bencana spontan yang menelan korban jiwa secara tiba-tiba, seperti : letusan gunung berapi atau letusan bom, yang langsung memberi efek panik. Bencana lingkungan di Danau Toba diakui terasa lambat atau hampir tidak terdengar. Masalah lingkungan di Danau Toba adalah nyata dan pasti, tetapi kurang diindahkan karena Danau Toba masih tetap ada secara fisik. Rincian-rincian masalah yang menerpa Danau Toba itu antara lain, adalah :
1. Hilangnya Jenis Ikan Tertentu dari Danau Toba
Dahulu di Danau Toba terdapat banyak ikan khas Batak, yaitu :Ihan Batak (Lisochillus, Sp). Tetapi populasi Ihan Batak secara drastis menurun dan bahkan hilang dari Danau Toba semenjak penjajahan Jepang. Diduga introduksi ikan mujahir oleh penjajah Jepang ke dalam Danau Toba menyebabkan hilangnya Ihan Batak dari Danau Toba.
Sampai akhir tahun enam – puluhan masih ditemukan ikan emas (Cyprinus Carpio) berukuran besar dalam jumlah yang banyak di Danau Toba. Demikian juga ikan-ikan khas Tapanuli lainnya, seperti : halu (bawal air tawar), asa-asa, tiri-tiri, tio-tio dan pora-pora, masih dapat ditangkap oleh nelayan tradisional di kawasan Danau Toba. Tetapi sejalan dengan meningkatnya pemakaian bahan kimia di pesisir Danau Toba serta semakin menurunnya permukaan air danau itu, maka populasi ikan-ikan tersebut mulai menurun drastis.
Introduksi udang air tawar ke Danau Toba pada tahun tujuh-puluhan pada akhirnya tidak berhasil, karena keberadaan udang air tawar tersebut sulit ditemukan sekarang ini di Danau Toba. Menurut nelayan tradisional dimasukkannya udang air tawar ke Danau Toba justru menyebabkan populasi ikan mujahir jauh menurun. Akibat negatifnya diperoleh pada masa sekarang, di mana sudah sangat sulit menemukan ikan mujahir berukuran besar hidup bebas di Danau Toba.
Dinas perikanan diketahui secara rutin menebar benih ikan ke Danau Toba terutama ikan emas. Akan tetapi dari wawancara dengan melayan tradisional dapat diketahui bahwa upaya penebaran benih ikan tersebut kurang berhasil karena saat kini sangat sulit memperoleh ikan emas berukuran agak besar hidup bebas secara alami di Danau Toba. Diduga ikan emas sudah sangat sulit bertumbuh secara alami dengan kondisi Danau Toba sekarang ini. Kualitas Danau Toba yang menurun serta bibir pantai yang semakin menurun membuat danau itu tidak sesuai sebagai tempat hidup ikan emas.
Dari pengamatan langsung terhadap beberapa lokasi dasar Danau Toba, sampai kedalaman tertentu, dapat diketahui bahwa bahan makanan alami ikan sangat miskin di Danau Toba, terutama pada dasar danau yang lebih dalam. Kondisi Danau Toba pada bagian yang paling dalam diduga menyerupai bak yang tidak dapat menghasilkan bahan makanan alami bagi ikan. Suhu air yang sangat dingin pada bagian yang lebih dalam juga mempertegas bahwa bagian itu bukan habitat dari ikan air tawar yang biasa dikenal di Danau Toba.
Dari kondisi tersebut timbul pertanyaan : Dari manakah ikan memperoleh makanan alami sejak dahulu di Danau Toba? Suatu dugaan sebagai bentuk jawaban adalah bahwa ikan memperoleh makanan alami dari bagian tepi danau yang kaya unsur hara, juga dari air bagian atas yang hangat, serta bahan pakan alami dari sungai-sungai dan parit yang bermuara ke Danau Toba.
Dengan menurunnya tinggi permukaan air Danau Toba sebagai akibat sedotan hulu Sungai Asahan yang sangat besar, maka bagian tepi danau yang kaya unsur hara dan bahan makanan alami untuk ikan, menjadi kering atau tidak tersentuh ikan yang hidup bebas. Ikan menjadi kehilangan bahan makanan alaminya, serta kehilangan tempat hidupnya yang lebih hangat. Oleh sebab itu, populasi ikan-ikan khas yang hidup bebas di Danau Toba semakin menyusut dan habis seiring waktu. Nama Toba yang berarti ikan, bertolak belakang dengan keadaan Danau Toba sekarang, yang miskin akan ikan bebas.
2. Pantai Tanpa Tataruang
Harus diakui bahwa aktifitas kegiatan penduduk di sekitar danau adalah pada pemukiman-pemukiman sekitar pantai, terutama pada kota-kota yang berfungsi sebagai pelabuhan. Sejak dahulu kala, bibir pantai Danau Toba telah dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lokasi pemukiman. Mereka cenderung membuang limbah rumah tangga langsung ke Danau Toba atau melalui saluran-saluran air limbah (got) yang bermuara ke Danau Toba. Terutama pada kota-kota sekeliling Danau Toba, (kecuali Kota Porsea dan Laguboti), limbah kota secara langsung terlihat mengotori Danau Toba.
Keadaan seperti itu dapat terlihat di kota-kota : Balige, Ajibata dan Parapat, Haranggaol dan Pangururan. Tiadanya prediksi jangka panjang tentang perkembangan desa dan kota di tepian Danau Toba membuat tiadanya tata ruang untuk daerah pesisir Danau Toba sampai sekarang. Hal ini pada gilirannya akan menyulitkan terhadap penataan ekosistim Danau Toba secara menyeluruh.
Sudah sangat sulit untuk meminimisasi pembuangan limbah kedalam Danau Toba, terutama limbah dari perkotaan. Seharusnya ada aturan tata ruang tentang wilayah : pemukiman, persawahan, ladang, jalan dan hutan di sekeliling Danau Toba, demikian juga dengan pemanfaatan pesisir, seperti : lokasi keramba apung, pelabuhan dan area penangkapan ikan.
3. Akumulasi Limbah
Memperhatikan tapografi wilayah sekeliling Danau Toba dapat diketahui bahwa Danau Toba umumnya dikelilingi daratan berupa lerengan yang tinggi, jauh di atas permukaan air danau. Hanya ada sedikit area yang permukaannya lebih kurang sama dengan permukaan air Danau Toba yaitu bagian hulu Sungai Asahan. Kondisi wilayah seperti itu membuat Danau Toba menjadi muara dari semua aliran air yang berasal dari daratan di atasnya, terutama dari sungai dan tali air.
Bila dahulu sungai-sungai dan tali air tersebut mengalirkan air yang relatif bersih atau belum terkontaminasi oleh bahan kimia, maka sekarang ini hampir semua aliran air itu telah tercemar oleh limbah bahan kimia untuk pertanian. Pencemaran Danau Toba oleh bahan kimia dari usaha pertanian tersebut dipaparkan oleh sumbangan limbah rumah tangga dari seluruh hunian yang semakin bertambah banyak di sekeliling Danau Toba, termasuk kotoran manusia.
Pemeliharaan ikan di dalam keramba apung telah memberi efek negatif kepada kualitas perairan Danau Toba. Besarnya volume pakan ikan yang tidak terkonsumsi oleh ikan piara setiap harinya, secara visual telah mengotori perairan di sekitar keramba apung. Di sisi lain jumlah ikan yang mati setiap hari, pada keramba apung sangat besar. Hal ini mengindikasi adanya masalah pada lingkungan perairan di areal pemeliharaan ikan dalam keramba. Ikan yang mati tersebut akan menjadi masalah lanjutan bagi pencemaran air Danau Toba.
Pencemaran perairan Danau Toba diikuti oleh merebaknya tanaman air eceng gondok yang menutupi permukaan air danau. Hampir di seluruh kecamatan di sekeliling Danau Toba, demikian juga dengan di Pulau Samosir, populasi eceng gondok cenderung meningkat.
4. Tiadanya Hutan
Patut disadari bahwa di areal sekeliling Danau Toba hampir tidak dijumpai lagi hutan. Kebanyakan dari lereng dan dataran di sekeliling Danau Toba merupakan area terbuka yang hanya ditumbuhi semak dan rerumputan liar. Hampir tidak dijumpai barisan pepohonan besar yang tumbuh rapat. Kondisi tersebut menunjukkan kurang berfungsinya areal sekeliling Danau Toba sebagai daerah tangkapan air yang normal untuk danau ini.
Secara teoritis upaya reboisasi diharapkan dapat menghijaukan dan menghutankan kembali wilayah lingkar Danau Toba. Tetapi hal tersebut diperkirakan sulit terwujud dengan beberapa alasan seperti :
- Cara pemeliharaan ternak besar
Pemeliharaan ternak kerbau dan lembu di sekitar Danau Toba cenderung hanya memanfaatkan rumput lapangan sebagai bahan makanannya. Cara pemeliharaan seperti itu, memang tidak menjadi masalah pada musim penghujan. Tetapi pada musim kemarau saat rumput dan hijauan segar sulit diperoleh, maka masyarakat terpaksa membakar semak dan rerumputan yang mengering, dengan tujuan dibekas pembakaran akan tumbuh rumput muda yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Kebiasaan seperti itu, membuat areal sekeliling Danau Toba cenderung terbuka dan tandus. - Dari kelompok ke individual
Dahulu pemeliharaan hewan ternak di sekeliling Danau Toba dilakukan secara berkelompok, demikian juga pemanfaatan hutan dan hasil hutan. Pemanfaatan hasil hutan tidak boleh dilakukan secara individual. Kegiatan di hutan harus dimanfaatkan bersama dan perlakuan pemanfaatan cenderung berupa kerja gotong royong. Dengan demikian pemanfaatan hasil hutan di sekeliling Danau Toba dapat dikontrol dengan baik, termasuk penebangan pohon. Pada masa sekarang, aturan-aturan pemanfatan lahan dan hutan tidak berlaku lagi, karena masyarakat sudah memanfatkan lahan dan hutan secara individual. Pelestarian hutan termasuk reboisasi jelas menjadi sulit diterapkan di wilayah ini.
5. Air Keluar lebih Besar dari Air Masuk
Penulis sebagai warga yang berasal dari pesisir Danau Toba merasakan bahwa bibir pantai Danau Toba telah menurun sampai sekitar 6 (enam) meter selama 40 (empat puluh) tahun ini. Dapat dibayangkan volume air yang hilang selama 4 (empat) decade terakhir. Penyebabnya sudah jelas selain berkurangnya sumbangan air dari areal sekitar Danau Toba, salah satu faktor utama adalah terlalu besarnya volume air keluar melalui hulu Sungai Asahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa kejadian naiknya permukaan air Danau Toba karena pintu air di proyek PLTA Siruar tidak dibuka. Dengan perkataan lain tinggi permukaan Danau Toba diduga sangat dipengaruhi oleh kegiatan pada proyek PLTA, sebagai sumber listrik bagi PT Inalum.
Bersambung ke halaman 3.

bagus analisisnya, lebih bahgus lagi kalau ditambah data penelitian di lapangan. Kearifan lokal memang harus menjadi ujung tombak penyelamatan danau toba, tapi kita juga harus pikirkan kemajuan ilmu dan teknologi. seandainya pemerintah atau siapapun mau berpikir sejenak dan benar2 serius ingin membangun kembali dananu toba, banyak ko putra-putri kita yang mumpuni dalam bidang itu. ada ko jurusan kesehatan masyarakat, ada ko lulusan biologi, ada ko ahli kimia. terus ko ga dipanggil sama yang berwenang ?
terimakasih atas ulasannya yang mendalam.
main juga ke blog saya :http://rajasimarmata.wordpress.com
Danau Toba adalah danau terindah yang saya lihat, terakhir saya ke toba tahun 2004 bersama famly, disitu saya melihat banyak sekali perubahan yang telah terjadi, dari segi kebersihan nya, waktu itu saya sengat menyesalkan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Kenapa tidak kita rawat bersama Danau Toba itu, kita buat danau toba itu menjadi kebanggan propinsi sumut bahkan sampe membawa Negara indonesia menjadi harum.
seandainya danau toba dapat berbicara, mungkin dia berkata :
” kenapa orang batak meninggalkanku, menghabiskan hari2nya di pulau jawa, eropa, pulanglah ke toba yg biru”
Let’s save Lake Toba…danau yang indah nan hijau…tidak kulihat lagi wajah itu ketika aku berkunjung June 2009. Dua belas tahun yang silam, danau itu masih biru dikelilingi perbukitan nan hijau. Air yang jernih dan berkilau….kurindu danau Toba tercinta kembali seperti dulu lagi. Pemandangan nya indah, alami dan banyak tourist yang datang kesana.
Mengapa sekarang bukit nan hijau jadi gundul kering kerontang, ada jg masyarakat yang menjadikan nya lahan dengan membakar pohon-pohon yang tumbuh disana? mengapa ada ijin dari pihak tertentu untuk menebas pohon-pohon yang sudah berpuluh ribuan tahun tumbuh disana.
Air danau yang dulu jernih, bersih sekarang berubah menjadi air yang berbau amis…dulu aku masih ingat bisa langsung meminum air danau dan segar sekali rasanya tp sekarang ada perasaan ngeri karena emang air nya dah berbau amis.
Oh…danau ku ….aku iba kepadamu…miris hatiku. Danau kebangganku yang tidak terlupakan…
Bravo SLTC…i proud of you…thanks to you…for your campaign to SAVE our Lake Toba. Do it until something happens in our LAKE…changes to the best future for our land Lake Toba
MAri terus kampanyekan penyelamatan danau kita yang indah seperti Lagu Tao Natio http://www.youtube.com/watch?v=DxmwkZumZnk
KIta kampanyekan juga peningkatan kesadaran masyarakat dan kepedulian pemerintah daetan untuk melindungi kawasan agar tidak terjadi pembakaran kawasan tangkapan air http://www.youtube.com/watch?v=MC3DDYxRJgA
Kearifan lokal tidak selalu memberikan pengaruh positif yang langsung kepada kawasan ekosistem danau toba. sebaliknya, regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada masa-masa terdahulu belum berpihak kepada jaminan eksistensi kawasan ekosistem danau toba.
Barangkali, okupasi hutan/ lahan sekitar kawasan ekosistem danau toba menjadi “Root of problem” dari semua masalah lingkungan yang terjadi pada kawasan ekosistem danau toba.
Dalam hidrologi, jumlah air yang masuk ke dalam sistem/ danau akan sama dengan jumlah air yang ke luar dari sistem/ danau. Hanya saja bentuk pengeluaran air dari sistem bisa bervariasi. Artinya, keluaran air dari sistem/ danau tidak hanya melalui pintu air danau yang berada di porsea saja,tetapi bisa melalui aliran bawah permukaan (base/ ground water flow).
Kebocoran air keluar dari sistem/ danau bisa mempercepat pengeringan air danau. Namun, jumlah air terbesar yang hilang sebenarnya terjadi melalui evaporasi langsung dari permukaan air danau. Curah hujan dan Energi matahari merupakan konponen menjadi pusat perhatian dalam menilai kesinambungan volume air danau toba. Sementara vegetasi, tanah dan jaringan sungai hanya mempengaruhi masukan air melalu sistem DAS ke dalam sistem. Membenahi ekosistem danau toba sama dengan membenahi sistem DAS yang ada di sekitarnya dan yang mempengaruhi masukan dan keluaran air ke dalam sistem/ danau.
Kpd penulis yth,
saya telah baca tulisan itu…..namun itu masih sebatas wacana…. kadang kali kita memperbesar permasalahan.. tiada yang salah dalam tulisan itu. Ketika hal itu ditulis…tentunya harus dibuktikan lagi. Sebenarnya apa masalahnya? Apa yang ada dalam tulisan itu baru sebatas hipotesa terhadap apa yang kita lihat dan rasakan. Saatnya kita harus buktikan, apa masalah sesungguhnya melalui “Scientific Research”….
Anda tahu..saya juga tahu.. kita semua tahu…so what our conclusion?
Siklus global-warming dan Ice-age sudah siling berganti sebanyak lima periode dan untuk Global-warming sekarang ini memasuki periode yang ke-5 sepanjang usia bumi, mungkin ada pengaruhnya terhadap penurunan volume Danau Toba.
Kearifan lokal (Local wisdom) harus mampu mengatasi problem Danau Toba terutama adanya program Save The Tao, tetapi Danau toba harus pula menjadi berkah pada masyarakat asli sekitar dan jangan menjadi hanya konsumsi orang yang menginginkan keindahan oleh orang luar dalam konsumsi pariwisata saja.
Penataan lingkungan terutama pembuangan limbah tinja dari hotel dan rumah serta limbah sampah mungkin hanya seputar metode pengelolaan saja. Pemanfaatan nilai ekonomis danau dalam hal keramba tentu menjadi manfaat yang tidak harus dilarang, namun kembali kepada metode pengelolaannya yang harus disinergikan oleh semua fihak terkait, semisal pemanfaatan pengelolaan keramba bukan di kawasan wisata. Masalah sisa pakan saya kira bukan kekhawatiran karena tak mungkin pakannya mengandung B3 sebagaimana yang dikhawatirkan.
Kearifan selayaknya disinergikan oleh semua fihak; masyarakat setempat - pemerintah/badan2 peduli - masyarakat luar, yang penting ada perputaran dana yang besar disekitar danau toba. SAVE THE TAO
Comment Tambahan:
Kearifan lokal yang dimaksud di artikel ini seharusnya untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat asli disekitar Danau Toba dan jangan pula menjadi tuntutan yang menjadikan masyarakat semakin tidak berdaya. Pemanfaatan Danau Toba dan lahan sekitarnya harus diberdayakan untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar. Saya kurang setuju kalau program SAVE THE TAO justru mengkebirinya. Masyarakat Batak disekitar Danau Toba sudah terlalu lama menderita dan hampir tak menikmati kemajuan di jaman kemerdekaan dibanding masyarakat perkotaan. Bagaimana mereka boleh bersaing di zaman modernisasi ini?
Jadi segala potensi peningkatan ekonomi rakyat disekitar Danau Toba harus menjadi bermanfaat bagi masyarakat disitu semaksimalnya karena itu adalah lahan mereka yang mereka mampu kuasai untuk kemaslahatannya. Menaburkan biji2 jagung (bukan metode penanaman) ke lahan2 terbengkalai mungkin akan menyediakan pakan ternak yang melimpah. Tetap melakukan penanaman pohon2 yang mampu tumbuh di lahan tandus, bahkan yang mampu pula sebagai tanaman produktif seperti sengon. Kalau masalah sisa pakan keramba, saya berpendapat tidak menjadi unsur negatif kegiatan masyarakat disitu dan justru menjadi penyedia pakan bagi ikan2 diluar keramba.
Sorotan yang paling besar justru pada penggunaan B3 pada pertanian dimana dinegara maju sudah dilarang, malah kita menggunakannya secara berlebihan. Bukan hanya danau toba, semua lahan persawahan di Tanah Batak yang dulunya masih dihuni oleh ikan-ikan endemik, sekarang sudah punah. Pengupayaan danau toba sejak dulu ditanami mujahir dan kemudian kelompok TD Pardede dengan udangnya tidak menjadi tuduhan hilangnya jenis2 ikan di danau toba bukankah upaya itu untuk siklus rantai makanan? tetapi kandungan B3 yang terdapat di danau toba yang harus dihentikan. Kita carilah sumbernya dari mana?
Kunjungan terakhirku ke Samosir mid Sept. Memprihatinkan adalah kata yang cukup untuk mewakili kondisi Danau Toba dan sekitarnya. Baik danaunya, hutannya bahkan penduduknya. Miris. Salah satu temenku yang baru pertama kalinya melihat kondisi tanah di Samosir nangis. Dia gak bisa bedakan mana tanah mana batu, karna tanah sudah mengeras seperti batu.
Danau Toba adalah point penting untuk diselamatkan, tapi jangan lupa ada yang jauh lebih penting yang perlu diselamatkan. PENDUDUK nya. Pernahkah kita semua berfikir, apa mata pencaharian mereka sekarang? Bertani? Tanah mereka gersang, gak ada air. Nelayan? Danaunya tercemar, gak ada ikan. Bertenun? Berapa orang dari kita yang menghargai ulos. Dan adakah pemerintah peduli dengan ulos itu? Wisata? Apa yang mau dijual ke wisatawan kalo objeknya sendiri udah gak indah? Bagaimana mereka memperkenalkan budayanya kalo mereka sendiri terbatas dalam berkomunikasi?
Satu hal lagi yang ironis, bagaimana mungkin Samosir yang punya danau seluas itu kekurangan air? Bagaimana mungkin di zaman semodern ini masih ada rumah yang tidak punya MCK yang layak? Bagaimana mungkin mereka tidak punya air bersih untuk minum?
Come on! Pemerintah, tugas utamamu adalah AIR BERSIH dan PENDIDIKAN/PENGETAHUAN yang layak untuk penduduk di sekitar Danau Toba yang kita cintai itu.
good..