save lake toba community

clean up the LAKE, green up the LAND!
Posted by Charly Silaban on June 23rd, 2009
Short URL to this post : http://savelaketoba.org/?p=168

Bagian Ketiga :
Kembali ke Kearifan Lokal

Solusi terhadap permasalahan yang mendera Danau Toba adalah memanfaatkan kembali kearifan lokal. Saran terhadap solusi ini didasarkan kepada kenyataan bahwa dahulu pemanfaatan lahan dan tanaman selalu mengikuti aturan kearifan lokal, dan hasilnya selalu memuaskan bagi masyarakat. Setelah kearifan lokal ditinggalkan timbullah berbagai masalah, seperti : perkara perebutan lahan rakyat yang tidak berkesudahan, pengurasan ikan dari Danau Toba, tiadanya kontrol terhadap hutan dan padang penggembalaan serta sirnanya ketentuan pendirian rumah dan huta (kampung).

1. Kearifan Lokal
Kearifan lokal adalah sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya, yang membentuk tingkah laku turun-temurun yang bertujuan melestarikan lingkungan dan alam sekitarnya.
Kearifan lokal dibuat berdasarkan hubungan sosial dan interaksi -sosial masyarakat, yaitu: kelompok marga dan Dalihan Natolu , serta Bius.
Ruang lingkup kearifan lokal meliputi : alam fisika dan gejala-gejala alam, jenis fauna dan flora , sistem bertani, beternak dan perikanan, latar budaya sosial, seperti : sistem peralatan , eksploitasi alam, pantangan -pantangan dan lain sebagainya.

2. Kearifan Lokal Penangkapan Ikan
Dahulu kearifan lokal penangkapan ikan di sekitar Danau Toba ditujukan untuk melestarikan jenis ikan yang ada di daerah itu. Para leluhur masyarakat Batak menyadari keterbatasan Danau Toba sebagai tempat hidup ikan. Berbeda dengan laut dan danau lainnya , dimana habitat ikan mencakup seluruh tempat, mulai dari pantai sampai bagian dasar maka di Danau Toba hanya bagian tepi dan air permukaan yang dapat menjadi tempat hidup ikan. Keterbatasan tersebut mengharuskan adanya ketentuan kearifan lokal penangkapan ikan. Beberapa aturan kearifan lokal penangkapan ikan yang berlaku dahulu di Danau Toba, adalah:

  • Kuota penangkapan
    Terdapat aturan kesepakatan bahwa nelayan di Danau Toba tidak boleh menangkap ikan terlalu banyak. Masyarakat hanya boleh menangkap ikan cukup untuk dikonsumsi sendiri atau boleh lebih banyak bila profesinya memang adalah nelayan, tetapi itupun harus dengan volume dan ukuran ikan yang tertentu.
  • Area No Fishing
    Beberapa lokasi di Danau Toba dinyatakan sebagai area No Fishing. Pelanggaran terhadap aturan ini diberi sanksi oleh raja wilayah.
  • Ukuran dan Kondisi Ikan Yang Dapat Ditangkap
    ahulu, nelayan dan masyarakat umum harus mengembalikan ikan tangkapan berukuran kecil ke Danau Toba ; Demikian juga ikan betina yang bertelur.

Ketiga aturan-aturan tersebut diatas sangat penting diterapkan kembali pada masa sekarang untuk mengurangi tekanan terhadap populasi ikan di Danau Toba. Dengan penerapan aturan ini diharapkan penaburan di Danau Toba oleh Dinas Perikanan, tidak menjadi sia-sia.
Beberapa aturan dari kearifan lokal lain yang dianggap perlu untuk diterapkan kembali adalah :

  • Penempatan/lokasi alat tangkap ikan.
    Dahulu bubu sebagai alat tangkap ikan ditempatkan di sekitar pantai, lokasinya tidak bisa sembarangan harus dengan persetujuan raja dan atau masyarakat lainnya. Pengangkatan ikan (hasil) dari dalam bubu juga pada waktu yang disepakati bersama.
    Aturan ini diharapkan bisa diterapkan pada keramba apung yang digunakan masyarakat sekarang. Seharusnya disepakati lebih dahulu apakah keramba apung bisa individu atau komunitas? dimana lokasi keramba apung (lokalisasi) dan berapa jumlah keramba (batasan maksimum).
  • Tala – lata ripe-ripe
    Salah satu ciri perikanan rakyat dahulu adalah adanya empang milik komunitas , atau disebut ambar atau Tala-lata ripe-ripe . Empang seperti ini adalah sumber bibit ikan yang dipelihara disawah.
    Model seperti ini dapat diterapkan kembali pada masa sekarang ini. Tala-lata ripe-ripe dapat ditempatkan pada muara sungai atau tali air yang mengalir ke Danau Toba. Secara berkala ikan-ikan dengan ukuran tertentu dilepas ke Danau Toba.

3. Kearifan Lokal Pertanian Tanaman Pangan.
Dahulu kearifan lokal sangat berperan pada pengusahaan pertanian disekitar Danau Toba. Semua kegiatan pertanian terutama pertanian tanaman pangan selalu disertai dengan aturan-aturan yang berhubungan dengan keberlanjutan sistem pertanian yang ada. Misalnya terdapat aturan-aturan tentang pengolahan lahan, pengairan , pemakaian pupuk, pemakaian bibit, masa turun tanam , masa panen, lumbung desa, dan lain-lain.

Tetapi larangan dari pemerintah penjajah Belanda terhadap beberapa aturan kearifan lokal justru telah melunturkan semua aturan kearifan lokal yang ada. Larangan kontroleur Belanda terhadap acara Mangase Taon karena dianggap melanggar aturan agama Kristen adalah sebagai salah satu contoh padahal Mangase Taon adalah bagian tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kearifan lokal ladang pertanian, disekitar Danau Toba.

Penerapan kearifan lokal bidang pertanian sangat erat tujuannya dengan konservasi sumber daya alam dan keberlanjutan sistem pertanian yang telah diperkirakan para nenek moyang masyarakat sekitar Danau Toba. Tiadanya aturan-aturan dari kearifan lokal pertanian yang diberlakukan pada masa belakangan ini, secara nyata telah mengakibatkan : degradasi kesuburan tanah, kurangnya daya dukung lahan, penurunan hasil produksi alami dan kerentanan terhadap serangan hama. Hal ini juga memberi efek hilangnya plasma nuftah tanaman lokal, tiadanya persediaan bibit tanaman,dan yang paling utama adalah kesulitan dalam pengaturan air atau irigasi.

Seandainya semua kearifan lokal dan aturan – aturannya itu diberlakukan kembali, dengan cara dimodifikasi seperti bagian acara ritualnya, disesuaikan dengan aturan agama yang dianut oleh masyarakat disekitar Danau Toba , maka diharapkan kesulitan-kesulitan yang timbul dari permasalahan-permasalahan tersebut diatas dapat diatasi.

4. Lahan Bersama dan Ternak Keluarga.
Dahulu, lahan kosong dan hutan adalah milik bersama antara anggota masyarakat desa ataupun bius. Pemanfaatannyapun bukan individual tetapi komunal. Bila seseorang ingin memanfaatkan hasil hutan berupa batang pohon ataupun ingin mengusahakan lahan kosong untuk pertanian atau mendirikan rumah, maka dia harus meminta persetujuan lebih dahulu melalui Raja Huta.

Memelihara ternak besar seperti kerbau dan sapi, tidak dilakukan secara individual-parsial tetapi dilakukan secara bersama-sama. Keadaan seperti itu membuat adanya sekumpulan ternak yang dipelihara bebas dipadang penggembalaan ataupun dipinggiran hutan. Kepemilikan ternak itu tidak hanya satu orang tetapi beberapa keluarga, dari desa atau bius yang sama. Model seperti ini masih dijumpai sampai tahun 1967 di Desa Sibuntuon-Balige. Sampai sekarang bentuk pemeliharaan seperti itu masih terdapat di Desa Sihotang Samosir.

Kearifan lokal tentang lahan bersama dan ternak keluarga ini dibuat oleh masyarakat terdahulu sebagai antisipasi terhadap akibat negatif dari : perebutan lahan dan eksploitasi berlebihan terhadap hasil hutan, yang sangat mungkin terjadi bila pengelolaannya dilakukan secara individual . Nenek moyang suku Batak disekitar Danau Toba sudah memikirkan bahwa hutan bisa habis dan lahan kosong tidak akan diusahakan apabila pola pengelolaan secara individual. Selanjutnya bila hutan telah habis, maka daerah tangkapan air tidak dapat berfungsi dengan baik.

Nenek moyang suku Batak disekitar Danau Toba juga menyadari bahwa dengan peternakan individual, maka areal yang tersedia tidak akan mampu menyediakan hijauan yang cukup untuk pakan ternak, bila dibagian atas (pegunungan) tidak ada hutan sebagai penangkap dan penyedia air yang cukup dan kontinu , untuk areal padang penggembalaan dibagian bawahnya.

Tiadanya kearifan lokal tersebut pada masa sekarang ini, secara nyata mengakibatkan : hilangnya hutan tanah gundul, berkurangnya populasi dan produksi ternak, timbulnya perkara perebutan lahan yang tidak berkesudahan, serta pembakaran lahan yang timbul setiap musim kemarau.
Penerapan kembali kearifan lokal ini dapat dilakukan dengan ; penanaman bambu ripe-ripe (keluarga) , pengelolaan eceng gondok ripe-ripe, pemeliharaan rumput pakan ternak dan leguinosa ripe-ripe pemeliharaan ternak ripe-ripe pada lahan ulayat atau lahan kosong.

5. Tata Guna Lahan
Kearifan lokal tentang hutan dan lahan kosong sangat berkaitan erat dengan tataguna lahan. Kaitan yang sangat nyata adalah pengaturan distribusi air yang berasal dari mata air dihutan pegunungan ke daerah persawahan dibawahnya. Pelaksanaannya dikordinasi oleh Raja Bondar.

Menyadari kondisi areal dari suatu bius seperti kesuburan lahan, topografi dan kemampuan menahan air, maka masyarakat disekitarnya telah menerapkan aturan tataguna lahan yang dinilai sangat baik. Area persawahan ditempatkan pada lahan produktif, dengan kemungkinan memperoleh aliran air permukaan yang besar. Perkampungan ditempatkan pada area yang strategis, tetapi merupakan lahan tidak produktif serta memiliki kemungkinan memperoleh aliran air permukaan yang sangat minim.

Penempatan perkampungan selalu pemufakatan bersama dengan tujuan yang sama yaitu mengharapkan tercapainya multi fungsi dari kampung , yaitu : kampung sebagai benteng, kampung sebagai area komunikasi , kampung sebagai tempat lumbung desa dan penyimpanan bibit tanaman ; kampung sebagai tempat pengandangan dan penangkaran kerbau, babi dan ayam ; dan kampung sebagai gambaran keeratan dan kebersamaan keluarga.

Bila pola pikir dari kearifan lokal dari tataguna lahan masih mungkin diterapkan pada masa sekarang ini, termasuk kaitannya dengan kebersamaan dalam pengkelolaan hutan, lahan kosong serta pengaturan air irigasi , maka masalah peternakan dan pertanian akan dapat lebih diperkecil, demikian juga dengan perkara perebutan lahan.

6 . Kesimpulan
Kearifan lokal yang diterapkan dahulu oleh masyarakat di sekililing Danau Toba, sangat berhubungan erat dengan konservasi lingkungan pada ekosistem Danau Toba. Penerapan kearifan lokal tersebut diharapkan mampu mengatasi segala permasalahan-permasalahan pada ekosistem Danau Toba.

(Penulis adalah Pemerhati Adat Batak, Dosen UHN Medan/f)

Source : Harian SIB


Halaman : 1 2 3

11 Responses to “Pemanfaatan Kearifan Lokal dalam Penanganan Ekosistem Danau Toba”

  1. bagus analisisnya, lebih bahgus lagi kalau ditambah data penelitian di lapangan. Kearifan lokal memang harus menjadi ujung tombak penyelamatan danau toba, tapi kita juga harus pikirkan kemajuan ilmu dan teknologi. seandainya pemerintah atau siapapun mau berpikir sejenak dan benar2 serius ingin membangun kembali dananu toba, banyak ko putra-putri kita yang mumpuni dalam bidang itu. ada ko jurusan kesehatan masyarakat, ada ko lulusan biologi, ada ko ahli kimia. terus ko ga dipanggil sama yang berwenang ?

    terimakasih atas ulasannya yang mendalam.

    main juga ke blog saya :http://rajasimarmata.wordpress.com

  2. yosef

    Danau Toba adalah danau terindah yang saya lihat, terakhir saya ke toba tahun 2004 bersama famly, disitu saya melihat banyak sekali perubahan yang telah terjadi, dari segi kebersihan nya, waktu itu saya sengat menyesalkan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Kenapa tidak kita rawat bersama Danau Toba itu, kita buat danau toba itu menjadi kebanggan propinsi sumut bahkan sampe membawa Negara indonesia menjadi harum.

  3. paul binsar

    seandainya danau toba dapat berbicara, mungkin dia berkata :
    ” kenapa orang batak meninggalkanku, menghabiskan hari2nya di pulau jawa, eropa, pulanglah ke toba yg biru”

  4. tiur_vera simarmata

    Let’s save Lake Toba…danau yang indah nan hijau…tidak kulihat lagi wajah itu ketika aku berkunjung June 2009. Dua belas tahun yang silam, danau itu masih biru dikelilingi perbukitan nan hijau. Air yang jernih dan berkilau….kurindu danau Toba tercinta kembali seperti dulu lagi. Pemandangan nya indah, alami dan banyak tourist yang datang kesana.
    Mengapa sekarang bukit nan hijau jadi gundul kering kerontang, ada jg masyarakat yang menjadikan nya lahan dengan membakar pohon-pohon yang tumbuh disana? mengapa ada ijin dari pihak tertentu untuk menebas pohon-pohon yang sudah berpuluh ribuan tahun tumbuh disana.
    Air danau yang dulu jernih, bersih sekarang berubah menjadi air yang berbau amis…dulu aku masih ingat bisa langsung meminum air danau dan segar sekali rasanya tp sekarang ada perasaan ngeri karena emang air nya dah berbau amis.
    Oh…danau ku ….aku iba kepadamu…miris hatiku. Danau kebangganku yang tidak terlupakan…
    Bravo SLTC…i proud of you…thanks to you…for your campaign to SAVE our Lake Toba. Do it until something happens in our LAKE…changes to the best future for our land Lake Toba

  5. MAri terus kampanyekan penyelamatan danau kita yang indah seperti Lagu Tao Natio http://www.youtube.com/watch?v=DxmwkZumZnk
    KIta kampanyekan juga peningkatan kesadaran masyarakat dan kepedulian pemerintah daetan untuk melindungi kawasan agar tidak terjadi pembakaran kawasan tangkapan air http://www.youtube.com/watch?v=MC3DDYxRJgA

  6. Benteng H.Sihombing

    Kearifan lokal tidak selalu memberikan pengaruh positif yang langsung kepada kawasan ekosistem danau toba. sebaliknya, regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pada masa-masa terdahulu belum berpihak kepada jaminan eksistensi kawasan ekosistem danau toba.
    Barangkali, okupasi hutan/ lahan sekitar kawasan ekosistem danau toba menjadi “Root of problem” dari semua masalah lingkungan yang terjadi pada kawasan ekosistem danau toba.
    Dalam hidrologi, jumlah air yang masuk ke dalam sistem/ danau akan sama dengan jumlah air yang ke luar dari sistem/ danau. Hanya saja bentuk pengeluaran air dari sistem bisa bervariasi. Artinya, keluaran air dari sistem/ danau tidak hanya melalui pintu air danau yang berada di porsea saja,tetapi bisa melalui aliran bawah permukaan (base/ ground water flow).
    Kebocoran air keluar dari sistem/ danau bisa mempercepat pengeringan air danau. Namun, jumlah air terbesar yang hilang sebenarnya terjadi melalui evaporasi langsung dari permukaan air danau. Curah hujan dan Energi matahari merupakan konponen menjadi pusat perhatian dalam menilai kesinambungan volume air danau toba. Sementara vegetasi, tanah dan jaringan sungai hanya mempengaruhi masukan air melalu sistem DAS ke dalam sistem. Membenahi ekosistem danau toba sama dengan membenahi sistem DAS yang ada di sekitarnya dan yang mempengaruhi masukan dan keluaran air ke dalam sistem/ danau.

  7. Firman Sinaga

    Kpd penulis yth,
    saya telah baca tulisan itu…..namun itu masih sebatas wacana…. kadang kali kita memperbesar permasalahan.. tiada yang salah dalam tulisan itu. Ketika hal itu ditulis…tentunya harus dibuktikan lagi. Sebenarnya apa masalahnya? Apa yang ada dalam tulisan itu baru sebatas hipotesa terhadap apa yang kita lihat dan rasakan. Saatnya kita harus buktikan, apa masalah sesungguhnya melalui “Scientific Research”….
    Anda tahu..saya juga tahu.. kita semua tahu…so what our conclusion?

  8. Siklus global-warming dan Ice-age sudah siling berganti sebanyak lima periode dan untuk Global-warming sekarang ini memasuki periode yang ke-5 sepanjang usia bumi, mungkin ada pengaruhnya terhadap penurunan volume Danau Toba.

    Kearifan lokal (Local wisdom) harus mampu mengatasi problem Danau Toba terutama adanya program Save The Tao, tetapi Danau toba harus pula menjadi berkah pada masyarakat asli sekitar dan jangan menjadi hanya konsumsi orang yang menginginkan keindahan oleh orang luar dalam konsumsi pariwisata saja.

    Penataan lingkungan terutama pembuangan limbah tinja dari hotel dan rumah serta limbah sampah mungkin hanya seputar metode pengelolaan saja. Pemanfaatan nilai ekonomis danau dalam hal keramba tentu menjadi manfaat yang tidak harus dilarang, namun kembali kepada metode pengelolaannya yang harus disinergikan oleh semua fihak terkait, semisal pemanfaatan pengelolaan keramba bukan di kawasan wisata. Masalah sisa pakan saya kira bukan kekhawatiran karena tak mungkin pakannya mengandung B3 sebagaimana yang dikhawatirkan.

    Kearifan selayaknya disinergikan oleh semua fihak; masyarakat setempat - pemerintah/badan2 peduli - masyarakat luar, yang penting ada perputaran dana yang besar disekitar danau toba. SAVE THE TAO

  9. Comment Tambahan:
    Kearifan lokal yang dimaksud di artikel ini seharusnya untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat asli disekitar Danau Toba dan jangan pula menjadi tuntutan yang menjadikan masyarakat semakin tidak berdaya. Pemanfaatan Danau Toba dan lahan sekitarnya harus diberdayakan untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar. Saya kurang setuju kalau program SAVE THE TAO justru mengkebirinya. Masyarakat Batak disekitar Danau Toba sudah terlalu lama menderita dan hampir tak menikmati kemajuan di jaman kemerdekaan dibanding masyarakat perkotaan. Bagaimana mereka boleh bersaing di zaman modernisasi ini?

    Jadi segala potensi peningkatan ekonomi rakyat disekitar Danau Toba harus menjadi bermanfaat bagi masyarakat disitu semaksimalnya karena itu adalah lahan mereka yang mereka mampu kuasai untuk kemaslahatannya. Menaburkan biji2 jagung (bukan metode penanaman) ke lahan2 terbengkalai mungkin akan menyediakan pakan ternak yang melimpah. Tetap melakukan penanaman pohon2 yang mampu tumbuh di lahan tandus, bahkan yang mampu pula sebagai tanaman produktif seperti sengon. Kalau masalah sisa pakan keramba, saya berpendapat tidak menjadi unsur negatif kegiatan masyarakat disitu dan justru menjadi penyedia pakan bagi ikan2 diluar keramba.

    Sorotan yang paling besar justru pada penggunaan B3 pada pertanian dimana dinegara maju sudah dilarang, malah kita menggunakannya secara berlebihan. Bukan hanya danau toba, semua lahan persawahan di Tanah Batak yang dulunya masih dihuni oleh ikan-ikan endemik, sekarang sudah punah. Pengupayaan danau toba sejak dulu ditanami mujahir dan kemudian kelompok TD Pardede dengan udangnya tidak menjadi tuduhan hilangnya jenis2 ikan di danau toba bukankah upaya itu untuk siklus rantai makanan? tetapi kandungan B3 yang terdapat di danau toba yang harus dihentikan. Kita carilah sumbernya dari mana?

  10. mai

    Kunjungan terakhirku ke Samosir mid Sept. Memprihatinkan adalah kata yang cukup untuk mewakili kondisi Danau Toba dan sekitarnya. Baik danaunya, hutannya bahkan penduduknya. Miris. Salah satu temenku yang baru pertama kalinya melihat kondisi tanah di Samosir nangis. Dia gak bisa bedakan mana tanah mana batu, karna tanah sudah mengeras seperti batu.
    Danau Toba adalah point penting untuk diselamatkan, tapi jangan lupa ada yang jauh lebih penting yang perlu diselamatkan. PENDUDUK nya. Pernahkah kita semua berfikir, apa mata pencaharian mereka sekarang? Bertani? Tanah mereka gersang, gak ada air. Nelayan? Danaunya tercemar, gak ada ikan. Bertenun? Berapa orang dari kita yang menghargai ulos. Dan adakah pemerintah peduli dengan ulos itu? Wisata? Apa yang mau dijual ke wisatawan kalo objeknya sendiri udah gak indah? Bagaimana mereka memperkenalkan budayanya kalo mereka sendiri terbatas dalam berkomunikasi?
    Satu hal lagi yang ironis, bagaimana mungkin Samosir yang punya danau seluas itu kekurangan air? Bagaimana mungkin di zaman semodern ini masih ada rumah yang tidak punya MCK yang layak? Bagaimana mungkin mereka tidak punya air bersih untuk minum?
    Come on! Pemerintah, tugas utamamu adalah AIR BERSIH dan PENDIDIKAN/PENGETAHUAN yang layak untuk penduduk di sekitar Danau Toba yang kita cintai itu.

  11. jarto

    good..

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Lake Toba Today :