save lake toba community

clean up the LAKE, green up the LAND!
Posted by Charly Silaban on December 2nd, 2009
Short URL to this post : http://savelaketoba.org/?p=187

Sumber : Waspada Online

Tanpa kesadaran dan keterlibatan komunitas lokal, program-program pendidikan lingkungan, peningkatan kepedulian kepada lingkungan (secara khusus Danau Toba), upaya-upaya penyelamatan ekologi Danau Toba serta pengembangan wisata berbasis alam atau ecotuorism tidak akan memiliki keberlanjutan (sustainability) dalam jangka panjang.

Belajar dari pengalaman banyak organisasi dan lembaga yang sudah lebih dulu bekerja untuk penyelamatan Danau Toba membuat forum diskusi Komunitas Selamatkan Danau Toba (Save Lake Toba Cummunity/SLTC) melihat pentingnya keterlibatan komunitas lokal (local community) dalam setiap program yang dijalankan.

“Sangat diperlukan upaya-upaya melahirkan agen-agen perubahan (changing agents) di dalam komunitas lokal yang akan menjadi pendorong dan penggerak bagi upaya-upaya penyelamatan dan penjagaan lingkungan Danau Toba untuk jangka panjang,”  cetus Board of Ethic SLTC John F Hutahayan, Karyanta J Sinulingga dan Charly M Sianipar  didampingi Program Coordinator Halida Srikandini Pohan dan Public Relations Natasha Siahaan sehubungan  pelaksanaan gerakan tanam dan pelihara pohon di kawasan Danau Toba yang dilaksanakan SLTC mulai dari Nagori Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun di sekitar Tugu Perjuangan TNI Stoottrup Brigade A Divisi X Komandemen Sumatera (Seksi I Sub Territorial VII), Selasa (1/12).

Untuk jangka pendek, SLTC yang berawal dari facebook group yang dirintis P. Siagian dan terbentuk pada 22 April 2009 bertepatan Hari Bumi, menggagas beberapa program yang dibungkus dengan sebuah kampanye berjudul Clean up the Lake and Green up the Land. Sesuai namanya, kampanye itu akan meliputi program terkait pembersihan danau, baik dari eceng gondok maupun dari limbah rumah tangga dan industri perikanan yang dibuang ke dalam danau serta program terkait dengan upaya penghijauan kembali catchment area Danau Toba. “Green Toba Project merupakan salah satu program aksi yang merupakan bagian dari kampanye Green up the Land.”

Selain program tangible, akan dilakukan program intangible berupa pendidikan masyarakat dan anak-anak sekolah melalui pendekatan budaya (kesenian, musik dan adat) akan pentingnya menjaga kelestarian alam Danau Toba dan kelestarian itu akan membawa kesejahteraan kepada mereka secara berkelanjutan.

Sementara, dalam  program jangka panjang, SLTC akan mengambil peran sebagai watchdog bagi kebijakan publik yang terkait dengan lingkungan Danau Toba serta berperan dalam kegiatan konservasi lingkungan seperti konservasi air, konservasi daerah hulu Danau Toba, rain water recharging, mengembangkan perangkat lunak dan perangkat keras bagi pendidikan lingkungan yang dapat mencapai masyarakat di daerah pedesaan, membiaya riset serta melakukan pengawasan (monitoring) kualitas dan kuantitas air danau secara berkelanjutan.

Menyinggung latar belakang kegiatan tanam dan pelihara pohon di kawasan Danau Toba, John menyebutkan Danau Toba merupakan danau terluas di Asia Tenggara dengan luas 110.260 Ha dan danau volcano tectonic terbesar di dunia (danau yang timbul dari letusan gunung berapi). Dengan keindahan alami serta kekayaan budaya suku Batak yang mendiami sekitar pinggiran danau, Danau Toba menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama Indonesia terutama bagi wisatawan asal Eropa. Namun, sesudah krisis moneter tahun 1998, jumlah kunjungan wisatawan turun drastis menjadi sekira 40.000-50.000 wisatawan asing per tahun.

Saat ini, kondisi ekosistem daerah tangkapan air (catchment area) maupun perairan Danau Toba mengalami berbagai tekanan kemerosotan, baik disebabkan faktor alamiah maupun akibat aktifitas yang kurang mengindahkan prinsip pelestarian ekosistem hingga pada saat ini terjadi degradasi daya dukung perairan maupun  daratan di sekitar kawasan Danau Toba. Beberapa faktor penyebab antara lain penebangan dan kebakaran hutan, tanah longsor ke danau, pembuangan sampah ke perairan danau dan daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi hulu Danau Toba, pencemaran air dari pembuangan limbah rumah tangga, pencemaran air dari konsentrasi sisa pakan ikan yang dipelihara menggunakan keramba jaring apung serta pesatnya pertumbuhan gulma eceng gondok yang menutupi sebagian daerah pinggiran Danau Toba.

Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT) melaporkan, dari 260.154 Ha daerah tangkapan air berupa daratan Danau Toba, sebanyak 116.424 Ha (sekitar 45 persen) sudah menjadi lahan kritis, sedang sisanya berupa hutan, pemukiman, kebun rakyat, sawah, lahan industri dan areal pariwisata. Daerah itu tersebar di tujuh kabupaten yang melingkupi Danau Toba yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, Dairi dan Karo.

Upaya Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) di kawasan Danau Toba yang dilakukan pemerintah, LSM dan swasta, sejauh ini baru mampu merehabilitasi 14.648 Ha daerah tangkapan air Danau Toba dan masih terdapat puluhan ribu hektar lahan kritis yang mendesak dikonservasi. Peta lahan kritis yang diperoleh dari Departemen Kehutanan baru-baru ini memberikan gambaran yang lebih memprihatinkan. Terlihat, hampir keseluruhan daerah tangkapan air Danau Toba berada dalam kondisi potensial kritis hingga saat kritis.

Bertolak dari kenyataan di atas, SLTC merencanakan sebuah program jangka pendek yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya rehabilitasi lahan kritis di sekitar Danau Toba dengan melakukan program penanaman 150.000 pohon di beberapa titik lokasi yang berada di dalam daerah tangkapan air Danau Toba hingga akhir tahun 2010.

Seiring dengan adanya kepedulian yang sama di tingkat nasional untuk menanam pohon, program SLTC menanam pohon perlu bersinergi dengan pemangku kepentingan lain. Untuk itu, SLTC melakukan kerjasama dengan berbagai elemen organisasi masyarakat diantaranya Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB). Berdasarkan kesepakatan antara SLTC dengan APPB, digagas suatu program bersama yang merupakan bagian dari Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon yang dilakukan Ibu Negara yang diwadahi Solidaritas Isteri Kabinet Bersatu (SIKIB).

Sesuai dengan kerjasama yang dibangun SLTC dan APPB serta SIKIB, sayap SLTC yakni Perempuan Peduli Danau Toba (PPDT) menjadi mitra SIKIB dan APPB untuk pelaksanaan penanaman pohon di kawasan danau Toba pada 1 Desember 2009.

Tujuan dari kegiatan program penanaman pohon itu yakni merehabilitasi atau melakukan konversi kondisi lahan kritis dan potensial kritis di daerah tangkapan air Danau Toba menjadi lahan tidak kritis, mengkampanyekan upaya penyelamatan lingkungan secara umum dan Danau Toba secara khusus melalui liputan kegiatan dan upaya-upaya public relation sebelum, selama dan sesudah kegiatan penanaman.

Kemudian, memberikan pemahaman kepada masyarakat di sekitar lokasi penanaman pohon akan pentingnya fungsi ekologis pohon dan nilai ekonomis pohon sebagai salah satu sumber ekonomi keluarga dalam jangka panjang, menumbuhkan rasa cinta kepada lingkungan secara umum dan rasa cinta kepada Danau Toba secara khusus serta memberikan pengetahuan dasar akan fungsi ekologis pohon serta cara penanaman pohon kepada anak-anak sekolah di sekitar lokasi penanaman, mendorong pengarusutamaan gender dalam penyelamatan lingkungan sekaligus nmengangkat harkat perempuan khususnya perempuan Batak dalam penyelamatan lingkungan.

Tentang target yang diharapkan dapat dicapai dari kegiatan itu yakni penanaman sekitar 150.000 pohon tanaman keras maupun tanaman buah produktif di lahan potensial kritis maupun lahan kritis di atas lahan seluas lebih kurang 150 Ha hingga akhir tahun 2010. Angka keberhasilan hidup tanaman mencapai 80 persen sesudah satu tahun penanaman, keterlibatan sekitar 100 KK secara langsung di setiap lokasi dalam kegiatan itu terkait penggunaan lahan mereka sebagai lokasi penanaman, keterlibatan 300-500 anak sekolah setingkat SLTP/SLTA di setiap lokasi dalam pelaksanaan sosialisasi hingga pelaksanaan kegiatan dan kampanye selamatkan Danau Toba di tingkat nasional dan internasional.

John menyebutkan dalam waktu penanaman pada 1 Desember 2009 sampai  Desember 2010, jenis pohon yang ditanam sebanyak 30 persen dari pohon produktif atau pohon buah alpukat, durian, mangga dan kemiri, 70 persen terdiri pohon tanaman keras yakni beringin, meranti, macademia, mahoni, pinus Toba atau ingul, target penanaman tahap I 20.000 pohon, tahap II 40.000 pohon, tahap III 40.000 pohon dan tahap IV 50.000 pohon. Sumber bibit pohon itu berasal dari Departemen Kehutanan, SIKIB dan APPB, sedang sumber dana dari donasi perorangan, lembaga donor, donasi badan usaha, donasi member dan lainnya. (dat02)


One Response to “Tanpa kesadaran dan keterlibatan komunitas lokal, program penyelamatan Danau Toba tidak berkelanjutan”

  1. Hi…
    Find the portraits of Lake Toba here…
    Horas…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Lake Toba Today :