Sumber : Harian SIB, Parapat
Berawal dari jejaring sosial facebook, Selamatkan Danau Toba terus mendapat perhatian. Danau terbesar di Asia Tenggara yang sudah semakin kritis yakni dari luas 260 ribu hektar, sekitar 100 ribu sudah rusak ekosistemnya. Keindahan danau dikotori oleh sampah dan polusi. Hutan sebagai resapan air telah dibakar. Adakah Upaya untuk melestarikan Danau Toba?
Terbentuk dengan ledakan vulkanik sekitar 75 ribu tahun yang lalu. Danau Toba menjadi sebuah danau terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Keindahan danau dengan Pulau Samosir di tengah danau tersohor hingga manca negara. Tetapi kini keadaan sungguh memprihatinkan, danau menjadi kotor karena banyaknya sampah yang dibuang oleh masyarakat dan turis yang tidak bertanggungjawab.
Budidaya ikan yang dulu dilakukan secara tradisional pun telah bergeser menjadi jutaan keramba yang mengotori danau. Hutan pun menangis dengan alasan pembukaan lahan atau akibat cuaca panas, sehingga pembakaran hutan sepertinya sulit untuk dicegah.
Lebih menyedihkan lagi eksplorasi hutan sebagai tangkapan air telah berlangsung lebih dari 2 dekade. Reboisasi hutan hanya sebagai kata kiasan, namun beruntung masih ada upaya dari beberapa orang penduduk lokal yang berusaha menghijaukan hutan.
“Mencari bibit dari hutan lalu ditanam di lahan kritis yaitu tanah ulayat kami. Menjaga lahan kritis untuk menjaga banjir dan longsor,”kata Bonar Siahaan, warga di lingkungan Danau Toba.
Berawal dari perkawanan di jejaring situs sosial facebook, kegundahan rusaknya ekosistem Danau Toba pun diungkapkan oleh 12000 warga. Dan langkah pun digalang.
Namun untuk menghindari Danau Toba semakin rusak, Ketua Gerakan Selamatkan Danau Toba, Suhuman Situmorang menekankan perlunya masyarakat mulai menanam pohon. “Dengan menanam pohon, mengajak mencintai alam, serta tidak membuang sampah sembarangan ke danau khusunya pencerahan ke generasi muda seperti murid SD, SMP, SMA, agar mereka sadar lingkungan dari awal,” katanya.
Hal senada disampaikan Annete br Sialagan salah seorang wisatawan pecinta Danau Toba. Ia mengungkapkan perlunya masyarakat tahu apa kepentingan menanam pohon dan menebang pohon, apa itu polusi dan apa itu sampah. Ia berharap pemerintah daerah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Jangan lagi ditebang pohon itu,”katanya.
Memang, upaya pelestarian lingkungan bisa dilakukan dengan beragam cara. Dari dunia maya ke dunia nyata, namun yang terpenting adalah langkah nyata untuk mengembalikan Danau Toba seperti sedia kala.
Sumber : (SCTV/Hel/u) Harian SIB, Parapat

Leave a Reply