“Berduyun-duyun anak muda Batak dari ‘puncak gunung dunia maya’ untuk menanggapi seruan wahai kawan mari selamatkan Danau Toba”
Kehilangan kepercayaan terhadap golongan tua memuncaki diadakan prosesi suatu sikap protes. Tapi jangan dulu banyangkan seperti yang acap kali kita lihat, kita baca atau kita temukan berupa orasi jalanan sebagaimana sering berdampak terganggunya kenyamanan area publik.
Justru kampaye yang dikedepankan lebih proporsional pada nilai-niai kebersamaan, kesederhanaan dan keterpanggilan untuk menjangkau masa depan ketimbang bincang-bincang diatas kertas kerja atau makalah. Pendek kata gelora muda Batak bertekad bahawa beratnya beban penderitaan yang ditanggung Danau Toba harus di hentikan segera mungkin.
Kendati sadar bahawa jalan menjuju ke sana masih sangat panjang dan berliuk-liuk, namun hentakan harus dikibarkan. Hentakan itu dengan dicanangkan Deklarasi Save Lake Toba Community.
Deklarasi ini bertujuan untuk membangun kesatuan dan kesamaan persepsi di antara generasi muda Batak terhadap kepedulian perbaikan mutu kualitas ekosistem Danau Toba yang kian terganggu keseimbangannya.
Demikianlah atmosfir yang terekam dalam suasana jelang deklarasi digentakan.
AWALNYA
Sebenarnya sudah terlalu melelahkan dan membosankan terhadap yang namanya kebulatan tekad penyelamatan Danau Toba selama ini. Dan masih kuat dalam ingatan kita, bagaimana ribuan proposal yang diajukan suatu kelembagaan, yayasan, perkumpulan dan seterusnya ‘atas nama’ lingkungan danau Toba, akan tetapi nyaris tidak pernah berujungkan perubahan yang signifikan. Lebih parah lagi usaha-usaha demikian terkesan sebagai ajang cari untuk saja.
Apakah gerakan moral komunitas ini juga tidak jauh bedanya seperti yang terdahulu.
Rada-radanya, kalau di telusuri dari awal terjadi kesepakatan, kemungkinan terulang kembali persoalan lama adalah kecil.
Mengikuti dari hasil percakapan langsung bahwa sikap sukarela, tulus dan ikhlas suatu titik keberangkatan yang positif.
Namun lebih dalam lagi bahwasanya ada titik temu seperti dinamika pola dan sikap pikir tentang Danau Toba yang tercipta dari bangunan komunikasi hubungan emosional yang terbina.
Secara kebetulan mediumnya tersedia secara murah, meriah dan bebas di dunia maya. Disana masing-masing individu berhak mengutarakan dan menguji pola berpikirnya tanpa ada yang melarang atau mengontrol. Akan tetapi saling menghargai dan menghormati. Kebebasan ini dicermati kalangan muda Batak dengan sikap dewasa, sehingga terjaga, terpelihara dan terakomodasi lah warna independensi yang justru anasir dikotonomi yang selama ini seperti “bisul” dalam masyarakat Batak itu sendiri bias diminimalisir. Dan itu terlihat saat mereka melakukan ‘copy darat’, di tambah lagi militansi sudah ada.
Bergerak dari sini kesamaan sikap dan pola pikir, keterukuran komunikasi hubungan emosianal, pelibatan diri baik secara individu maupun bersama-sama disertai kesadaran terhadap tingkat kesetaraan serta jiwa muda militan telah membuat adanya suasana bathin dalam bahasa sama. Ketika suasana bathin dalam bahasa yang sama untuk saling menguatkan jatidirinya, maka sikap kepedulian berkarakter positif muncul keluar. Bahasanya pun jadi sama yakni ‘mari selamatkan Danau Toba’.
LAY SIAGIAN, SANG PELOPOR
Website, blog, email, blackberry, friendster dan sebagainya sarana curhat-curhatan yang digemari. Dunia teknologi informasi ini juga banyak di mamfaatkan kalangan generasi muda Batak tidak hanya dibidang bisnis, ilmu pengetahuan atau informasi. Hal-hal yang sulit diungkapkan seputar budaya Batak dengan mudahnya disebar luaskan kemudian muncul bermacam tanggapan atas persoalan tersebut. Kadangkala ada penolakan terhadap budaya Batak oleh kalangan muda Batak. Mereka mengeluh betapa budaya Batak bercenderungan menghambat pengembangan diri seseorang. Interpretasi ini disambut rekan lainnya dengan melakukan penjelasan-penjelasan berdasarkan kajian ilmiah dan logis.
Curahan hari baik sisi positif dan negative dikupas habis tanpa pernah rakut masuk wilayag yang ditabukan kalangan tua. Dalam berbagai hasil penelitian serta psikoanalisa yang tanpa pernah sama sekali disadari kalangan tua, kenyataan justru terjadi pembalikan. Bahkan sebenarnya mengharubirukan perasaan betapa sesungguhnya kalangan muda lebih bertanggung jawab pada akar budanyanya dlam artian luas tidak seperti kalangan tua yang hanya berkutat pada proses adat istiadat pernikahan dan kematian tok. Sebenarnya memalukan kalau kalangan tua tidak.
Dalam perkembangan internet muncul ranah facebook yang menghebohkan sampai-samapi ada upaya untuk mengharamkan, Lay siagian yang sehari-harinya sebagai penggiat teknologi informasi tervirus facebook. Keprihatinanya betapa terpuruknya Danau Toba sudah tidak dapat ditolerir, ia tuangkan seadanya di facebook. Gugatan dan gugahan dalam bangunan komunikasi hubungan emosional terespon positif. Sejarah bangso batak dibuka, budanya dipaparkan, kearifan lokalnya digali dan warisan budaya dijunjung.
Perlahan-lahan ‘crowd’ personalitas hubungan interaksi dunia maya melalui facebook 15.000 orang. Rata-rata kalau kita pedalaman bahawa mereka adalah generasi muda Batak yang smart, mapan dan punya jejaring luas baik tingkat nasional maupun internasioanl.
Berketepatan Hari Bumi 22 April diperingati di seluruh dunia, muncullah seruan di facebook bahawa Danau Toba hanya dapat diselamatkan dengan aksi nyata. Berduyun-duyun anak muda Batak turun dari ‘puncak guung dunia maya’ untuk menanggapi seruan ‘wahai kawan mari kita selamatkan Danu Toba’. Lantas mereka membangun komunitas penyelamatan Danau Toba atau Save Lake Toba Community.
Sifat kepengurusan bukan layaknya seperti kebanyakan organsisi melaikan lebih diorientasikan ke bentuk kesetaraan anggota. Cukup komite etik dan perwakilan daerah.
IT’S LOVELY
Dari Gedung Pusat Perfiliman Usman Ismail, Kuningan, Jakarta aura kesiapan prajurit tempur muda Batak untuk menyelamatkan Danau Toba sangat kental mengelimuti suasana siang itu, Sabtu, 6 Juni yang lalu. Dengan seragam merah darah yang bertuliskan Save Lake Toba senyum pengharapan kalangan muda berona dan berpendar keseluruh ruangan. Tak sedikit pun beban yang menggelantung dalam diri mereka. Soalnya tanggungjawab menyalamatkan danau Toba merupakan panggilan nurani bukan keterpaksaan. It’s Lovely
Lebih kurang 500 anak muda Batak serta perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup serta Pemda Sumut menghadiri pendeklarasian tersebut.
Acara ini dihibur dengan artis ibukota dan daerah. Dengan Natasha br. Siahaan dan Yohana br. Nainggolan sebagai pemandu acara suasana terasa hidup. Ada monolog dari Suhunan ‘Sordam’ Situmorang yang mengangkat derita dan jeritan pilu Danau Toba yang diperlakukan seperti domba ke pemotongan. Belum lagi sikap orang Batak yang nyaris tak pernah memikiri kengerian dan kegetiran atas dampak yang terjadi akibat luluh lantahnya ekosistem Danau Toba. Degradasi ekosistem sudah memasuki lonceng kematian kalau dibiarkan terus. Pembalakan hutan meliar tanpa perhitungan lagi.
Sebelumnya Charlie Sianipar dengan ikat kepala seutas kain merah dengan lantang menyerukan lima butir sikap pendeklarasian.
Menurut humas, biaya penyelenggaraan dikutip urunan anggota atau si soli-soli.
Tidak itu saja, panitia juga menghimpun kaum muda dalam pemberdayaan ekonomi kreatif.
Banyak hal yang mulai digalakkan, tetapi sisi lain yang menegaskan bentuk keberhasilan di masa mendatang adalah sudah terjalin erat komunikasi hubungan emosional. Tanpa yang satu ini niscaya, akan kembali menemukan jalan buntu.
Setiap revolusi dan reformasi di dunia mana pun senantiasa di pelopori kalangan muda, karena kemapanan milik kalangan tua sudah bergerak berubah.
Dengan pernyataan sikap Clean up The Lake dan Green up The land marilah kita selamatkan Danau Toba.
Horas jala gabe dihita sude na.
Sumber : Majalah SAMBULO Edisi Perdana :: JULI 2009, hal 57 – 58

Leave a Reply