save lake toba community

clean up the LAKE, green up the LAND!
Posted by Charly Silaban on January 24th, 2010
Short URL to this post : http://savelaketoba.org/?p=296

Penulis : Limantina Sihaloho

Bule Jorok Mengotori Danau Toba

Bule Jorok Mengotori Danau Toba

9 Januari bulan ini, saya dan adek saya naik kapal dari Parapat menuju Tuktuk Samosir yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata terutama bagi para turis manca negara. Kami masih sempat duduk-duduk beberapa menit di atas kapal sebelum kapal yang kami tumpangi melaju. Saat duduk itulah, saya terkejut sekaligus jengkel memperhatikan seorang bule yang makan jeruk. Bule ini dengan seenaknya saja membuang kulit dan biji jeruk yang dimakannya ke dalam air, ke dalam danau padahal, di dalam kapal ada tempat sampah.

Dalam hati saya, “Iiih, sembarangan amat kawan ini buang sampah dengan cara seperti itu! Ini bule apaan sih?”

Tiba di Tuktuk, saya bercerita kepada Merdi Sihombing soal bule di atas. Merdi bilang, “Kenapa Ito nggak ngomong langsung ke dia?”

Danau Toba, salah satu anugrah yang paling besar bagi tidak hanya penduduk di seputar Danau ini tetapi juga bagi Dunia. Keindahan ini janganlah kita biarkan bernoda. (Foto oleh: LTS)

Danau Toba, salah satu anugrah yang paling besar bagi tidak hanya penduduk di seputar Danau ini tetapi juga bagi Dunia. Keindahan ini janganlah kita biarkan bernoda. (Foto oleh: LTS)

Waktu saya memperhatikan si bule yang makan jeruk dan membuang kulit dan bijinya ke dalam danau seolah-olah tanpa rasa bersalah, sebenarnya waktu itu ada dorongan untuk mendatanginya tetapi dalam waktu yang sama, ada juga dorongan untuk tidak melakukannya dengan alasan: saya kan orang lokal, nanti dikira saya tak sopan dan tak baik pada tamu. Saya duga, dia akan malu kalau saya mengingatkannya agar tidak membuang sampah ke dalam danau.

Dalam kapal di mana kami berada ada tempat sampah tetapi si bule memilih membuang sampahnya ke dalam Danau Toba seolah-olah Danau Toba itu adalah tempat sampahnya. (Foto oleh: LTS)

Dalam kapal di mana kami berada ada tempat sampah tetapi si bule memilih membuang sampahnya ke dalam Danau Toba seolah-olah Danau Toba itu adalah tempat sampahnya. (Foto oleh: LTS)

Selama ini ada kesan seolah-olah orang lokal yang punya kebiasaan membuang sampah sembarangan ke dalam danau sedangkan orang-orang bule, turis manca negara apalagi berkulit putih adalah orang-orang yang bersih, yang tidak akan membuang sampah secara sembarangan ke dalam danau. Saya tak bisa bayangkan kalau saya berada di Eropa lalu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh kawan itu, membuang sampah sembarangan.

Setelah melihat langsung apa yang terjadi di hadapan saya dalam perjalanan ke Tuktuk 9 Jan 2010 lalu itu, saya jadi bertanya, “Bule-bule yang datang ke Samosir ini bule-bule jenis apa sih?” Mereka ini orang-orang berpendidikan di negaranyakah atau orang-orang gembels?

Mimpi Gadis Tuktuk

Di Tuktuk, ada sebuah test-case yang menarik. Merdi, Taufik, Toch (adek saya) dan saya sedang mengobrol bersama. Lalu seorang pelayan di restoran di mana kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Lumban Suhi datang membawakan minuman yang kami pesan. “Ayo kita buktikan Ito, kita tanya apa mimpi perempuan-perempuan yang ada di Tuktuk ini,” begitu kata Merdi.

Pelayan yang membawakan teh tiba dan meletakkan di meja minuman yang kami pesan. “Ito”, sapa Merdi kepada pelayan itu, “apa mimpimu?”

Terkejut juga saya mendengar jawaban pelayan itu, “Kawin dengan bule!”

Merdi melanjutkan pertanyaannya, “Kenapa harus kawin dengan bule?”

Pelayan itu lalu menjelaskan bahwa keinginannya untuk kawin dengan bule adalah dalam rangka memperbaiki perekonomiannya.

Tuktuk, salah satu tujuan wisatawan manca negara yang penting di Samosir. (Foto oleh: LTS)

Tuktuk, salah satu tujuan wisatawan manca negara yang penting di Samosir. (Foto oleh: LTS)

Kami sepakat bahwa Tuktuk Samosir adalah sebuah tempat yang menarik dan patut untuk diteliti oleh para peneliti sosial dan budaya; bagaimana turisme memberikan manfaat bagi penduduk di sini: apakah memang benar-benar bermanfaat bagi penduduk lokal kebanyakan.

Informasi yang saya dengar yang masih tentu sangat perlu untuk diteliti dan dibuktikan: Bule-bule yang sudah tua menikah dengan gadis-gadis lokal dan mereka membeli tanah di Tuktuk. Gadis-gadis lokal nampaknya senang menjadi istri bule walau si bule sudah kakek-kakek?

Bule-bule macam apa yang datang ke Samosir? Apakah mereka orang-orang berpendidikan yang ketika berada dan setelah meninggalkan Samosir mampu memberikan manfaat bagi kemajuan turisme secara positif di Samosir?

Salah satu cara untuk mengembangkan pariwisata di Samosir adalah menjadikan para turis itu partner kerja oleh berbagai pihak termasuk masyarakat yang bergerak dalam bidang pariwisata di Samosir; para turis yang memang punya pendidikan dan perhatian pada kemajuan peradaban universal yang tidak datang ke Samosir atau Indonesia sekedar berhedonisme apalagi buang sampah sembarangan seperti kawan yang satu itu. ***

Sumber : Kompasiana


5 Responses to “Bule Buang Sampah Sembarangan di Danau Toba”

  1. sibule pastin meniru perbuatan orang sekitarnya. dia melihat, orang-orang disekitarnya melakukan hal yang sma, sehingga dia berpikir apa yang dia lakuklan adalah benar.itu saja!.

  2. Membaca cerita Limantina diatas, saya cukup mesem2 dan disini saya bukan cari argumentasi, namun hanya mengigatkan kita orang-orang Indonesia, bahwa semua yang berkulit bule itu belum tentu berasal dari negara maju dan berpendidikan. Banyak orang2 berkulit bule itu berasal dari negara yang sangat terbelakang, mungkin lebih kurang pendidikan kemajuan dari orang Indonesia. Tentunya kita menganggap bahwa setiap kulit putih itu orang berpendidikan? We have to be bloody joking, right?

    Don’t just the book by the cover!!

    Horas.

  3. Sorry meant to say: Don’t judge the book by its cover.
    N

  4. romario

    mungkin…dia biasa buang sampa di negaranya!!!!!
    lalu ia membawa sikap nya itu ke danau toba….

  5. mungkin hal itu bisa saja terjadi jika para bule melihat masyarakat sekitar danau toba juga membuang sampah sembarang……….

    karena para bule biasanya melihat apa yang menjadi kebiasaan kita dan keteraturan dalam hidup kita/masyarakat danau toba……

    jd mreka bisa saja melihat kita sedang membuang sampah sembarangan kedanau toba…..dan mreka berpikir klo hal itu bisa dilakukan karena masyarakt sendiri juga sudah melakukannya…..

    jadi sebenarnya hal yang paling utama adalah dari dalam diri kita sendiri…… jika dr dalam diri kita sendiri sudah terlaksana.. maka para turis pun mgk akan enggan untuk membuang sampah kedanau toba,,,,,,,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Lake Toba Today :