Merdi Sihombing —satu dari sekian perancang busana kelas dunia yang baru berkeliling Danau Toba — protes karena Danau Toba makin dicemari zat kimia dan bahan berbahaya, baik yang langsung mematikan biota danau maupun yang mengancam kehidupan sehat manusia. Zat kimia itu, ujarnya di Medan, Rabu (2/12), berasal dari limbah zat pewarna kimia dari proyek latihan pewarnaan benang yang melibatkan pemerintah kabupaten. Pencemaran lain datang dari pembuangan limbah rumah tangga modern. “Hotel, bungalow, losmen kelas internasional terus dibangun di hampir semua sisi Danau Toba. Limbahnya dibuang begitu saja hingga membuat pencemaran baru. Belum lagi industri perikanan, termasuk enceng gondok. Enceng gondok tidak signifikan mencemari karena jadi sumber makanan biota danau, tapi zat kimia industri dan zat kimia rumahan, membuat kehidupan teracuni,” kesal Merdi Sihombing, satu-satunya designer tekstil Indonesia yang beroleh penghargaan dari komunitas perancang dunia hingga karyanya dipajang di Museum Svarosky Cristal Austria.
Didampingi aktor senior Ozy Syahputra yang namanya sohor setelah membintangi Si Manis Jembatan Ancol, sejumlah model dan pekerja kreatif seperti fotografer Paul Ginting dari Mari Foto Studio, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Sumatera Utara Solahuddin Nasution SE MSP, Merdi Sihombing mengatakan, buat apa dilakuan pelatihan pewarnaan benang berbahan zat kimia karena pemborosan dana dan mencemari. Katanya, di sekitar Danau Toba banyak pohonan sumber warna alami bahkan mangga dan kulit pohon mangga bisa menjadi bahan dasar pewarna. “Dengan menggunakan zat pewarna alami, harga tenun justru lebih mahal dan digemari di negara maju,” ujar Merdi Sihombing sambil menunjuk partonun — seperti tenun ikat Batak yang dinamai abid godang atau parompa sadum bahkan ulos Harungguan dari Muara, Taput berbahan serta berperwarna alami — berharga minimal Rp3 juta per helai.
Merdi Sihombing mengatakan, protes yang diutarakannya adalah protes para aktivis lingkungan dunia yang sampai ke telinganya. Katanya, negara-negara maju menggelontorkan dana superbanyak agar masyarakat menggunakan bahan alami, tapi kenapa tidak dimanfaatkan publik di Indonesia. “Aku harap, para penenun tradisional di daerah Tapanuli diajari mewarnai dengan bahan alami. Hasilnya menjadi kekuatan ekonomi berbasis budaya, tidak mencemari alam dan kehidupan,” tandasnya.
Merdi Sihombing bilang, pasca pengeksploitasi tenun Batak dan modifikasi serta aksentuasi warna alami, negara maju sudah paham kualitas tenun Tapanuli. Buktinya, hasil rancangan dan design yang dilakukannya sudah jadi bagian lifestyle publik the have dunia. “Obsesiku selanjutnya punya rumah mode di Milan, Los Angeles bahkan bersanding sama Takasimaya. Tapi aku, Merdi Sihombing harus lebih dulu punya Art Centre di Danau Toba agar penikmat hauteculture memiliki lokasi saat berwisata di danau terbesar di dunia itu,” tutup Merdi Sihombing.
Sumber : (r10/y) Harian SIB

Leave a Reply